Selasa, 12 Juni 2018

Penyesuaian Diri dan Kesehatan Mental


Penyesuaian diri dapat diartikan sebagai suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan mengatasi ketegangan, frustrasi dan konflik dengan memperhatikan norma-norma atau tuntutan lingkungan dimana individu itu hidup (Schneiders).
Penyesuaian diri terdiri dari :
1. Penyesuaian Yang Normal, memiliki karakteristik :
a. Absence of exessive emotionality.
b. Absence of psychological mechanisme (rationalisasi, agresi, kompensasi dan sebagainya).
c. Absence of the sence of personal frustration.
d. Rational deliberation and self-direction.
e. Ability to learn
a. Utilization of past experience.
b. Realistic, objective attitude
2. Penyesuaian Yang Menyimpang.
Proses pemenuhan kebutuhan atau upaya pemecahan masalah dengan cara-cara yang tidak wajar atau bertentangan dengan norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, ditandai dengan respon-respon sebagai berikut  :
a. Defence Reaction (reaksi bertahan), respon yang tidak disadari, yang berkembang dalam struktur kepribadian individu dan menjadi menetap, sebab dapat mereduksi ketegangan dan frustrasi dan dapat memuaskan tuntutan-tuntutan penyesuaian diri.
Mekanisme pertahanan diri itu berbentuk :
1) Kompensasi, menutupi kelemahan dalam satu hal dengan cara mencari kepuasan dalam bidang lain.
2) Sublimasi, mengganti kelemahan atau kegagalan dengan kegiatan yang mendapatkan pengakuan masyarakat.
3) Proyeksi, melemparkan sebab kegagalan dirinya kepada pihak lain. 
Faktor yang melatar belakangi mekanisme pertahanan :
1) Inferiority, perasaan atau sikap rendah diri dengan gejala :
a) Peka terhadap kritikan orang lain.
b) Sangat senang terhadap pujian atau penghargaan
c) Kurang senang untuk berkompetensi
d) Senang menyendiri, pemalu dan penakut
Inferiority dipengaruhi oleh :
a) Kondisi fisik seperti kerdil, cacat, sakit-sakitan dan sebagainya.
b) Psikologis seperti  IQ idiot, embisil, debil.
c) Kondisi lingkungan yang tidak kondusif seperti keluarga tidak harmonis, kemiskinan, perilaku keras dari orang tua.
1) Sense of Inadequacy (perasaan tidak mampu)
2) Sense of Failure (perasaan gagal)
3) Sense of Guilt (perasaan bersalah).
b. Agresive Reaction dan Delinquency.
Agresive reaction adalah bentuk respon untuk mereduksi ketegangan dan frustrasi melalui media tingkah laku yang merusak, menguasai atau mendominasi.
Deliquency adalah tingkah laku individu atau kelompok yang melanggar norma moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, yang menyebabkan terjadinya konflik antara individu dengan kelompok atau masyarakat.
Karakter perilaku atau sikap agresif (M. Surya) :
Selalu membenarkan diri sendiri.
Mau berkuasa dalam setiap situasi.
Mau memiliki segalanya.
Bersikap senang mengganggu orang lain.
Menggertak dengan ucapan atau perbuatan.
Menunjukkan sikap bermusuhan secara terbuka.
Menunjukkan sikap menyerang dan merusak.
Keras kepala.
Bersikap balas dendam.
Memperkosa hak orang lain.
Bertindak serampangan (impulsif)
c. Flight from Reality Reaction,
Refleksi perasaan jenuh, putus asa dan kecemasan dalam menghadapi kenyataan. Bentuknya :
1) Banyak berfantasi/melamun.
2) Banyak tidur atau tidur patologis.
3) Minum-minuman keras.
4) Intensi bunuh diri.
5) Menjadi pecandu psikotropika
6) Regresi
d. Flight into Illness/Pathologis, penyesuaian yang pathologis : Neurosis atau the struggle with anxiety, kondisi emosi yang salah-suai dalam mana gejala-gejala yang muncul disebabkan oleh tekanan dari luar.









**materi ini disampaikan oleh dosen mata kuliah kesehatan mental (bu Dewi Khurun Aini) pada kelas psikologi UIN Walisongo Semarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar