Kamis, 29 Desember 2016

Tanpa Judul




Dua minggu lalu aku hadir di sebuah acara yang sudah tak asing bagiku (mu'awanah gabungan namanya) walaupun kali ini sedikit berbeda. Itu karena aku sudah berpisah. Tempatku sudah berbeda. Aku tak lagi bersamanya. Semuanya harus bisa dikerjakan dan dilakukan sendiri. Sejak pagi buta aku harus segera bangun seperti biasa menunaikan kewajibanku sebagai hamba-Nya, lalu kewajibanku sebagai santri.
Hari itu, kebetulan hari minggu. Hari dimana jadwalnya bersih-bersih. Kamar mandi sibuk digosok, tangga dan aula sibuk disapu pun dipel, kamar ma’had tak luput ditata rapi. Kesibukan itu diiringi dengan lagu berbahasa arab. Ya, nuansanya ketimuran. Serasa berada dibagian bumi belahan mana saja, padahal aku masih disini, di Indonesia. 
Seminggu ini berbeda dengan minggu kemarin yang jadwalnya berbahasa inggris. Mungkin karena bahasa inggris sudah tak lagi asing di telingaku, nuansa ketimuran disini ku anggap sangat kuat. Belum lagi ditambah dengan setiap pengumuman yang disiarkan baik oleh musyrifah (supervisor) ataupun general advisor yang sering memakai bahasa arab. Ah, lengkap sudah rasanya, ketidakmengertianku.
Oh ya dilanjut dengan cat warna hijau ma’had, kitab-kitab klasik yang dipelajari, dan para santri yang sering menggunakan bahasa arab di setiap percakapan. Ya, kebanyakan mereka lulusan MAN ataupun pondok, sedangkan aku? Hehehe aku seringkali menjawab pertanyaan mereka menggunakan bahasa inggris. Kadang aku mengerti apa maksud mereka tapi tak bisa menjawabnya dengan menggunakan bahasa yang sama, kadang aku juga tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Sudah kucoba memakai bahasa arab walau kadang habis di kata. Aku masih perlu banyak belajar. Beruntung ada teman sekamarku lulusan Gontor yang suka membantuku membuat khitobah. Aku seringkali kesusahan membuat khitobah, dan temanku itu suka membantuku.
Pernah juga aku sudah mempersiapkan 3 judul khitobah untuk diajukan, tapi ditolak oleh musyrifah, alasannya simple, katanya terlalu umum dan sepertinya sudah pernah disampaikan waktu OPAK. Yasudah kucari lagi. Setelah diterima judul dan konsepnya, segera ditranslate baruuu dikoreksi musyrifah dan bisa dihafal. Panjang ya prosesnya wkw. Oh iya, pengalaman pertama saja aku mengulang untuk khitobahku, kebetulan waktu itu aku sakit jadi untuk menghafal rasanyaaaa hmm susah memusatkan pikiran (fokus). Tapi yasudahlah tak apa. Aku tidak minta untuk dimengerti hihi.
Jantungku sering berdebar tak karuan ba’da shalat subuh kau tahu kenapa? Di minggu bahasa arab, kalau santri yang tak mendapat jadwal khitobah selain mendengarkan, kami harus bersiap untuk mengambil konklusinya. Ya tentunya memakai bahasa arab. Disitu aku membawa catatan kecilku, aku mencatat apa yang disampaikan walaupun rompang dan tak lengkap karena penyampaiannya yang terlalu cepat. Aku pun tak mengerti kadang dengan yang kucatat, tapi kalau sudah ditunjuk, ya maju sajalah sampaikan apa adanya.
Sudah hampir empat bulan aku jadi bilingual student di ma’had UIN Walisongo. Rutinitasnya rasanya begitu padat. Ya, selain jadi mahasiswa kan jadi santri, belum lagi dengan ikut kegiatan ukm-ukm. Sungguh suatu hal yang baru. Tiap hari selalu ada khitobah ataupun speech, lalu disusul dengan muhadatsah ataupun conversation, disambung dengan masuk kuliah, maghribnya kadang dibaan, nderes quran seperti biasa, setor surah yang dihafal dan malam mahkamah (yang suka bikin dag dig dug dipanggil ngga ya hayo nglanggar aturan ngga?  Wkwk). Ba’da shalat isya  ngaos kitab ta’lim muta’alim, tafsir jalalain, yaqutunnafis, mau’idhotul mukminin.
Pokoknyaaa kalau ngaos kitab ba'da isya rampung, ya waktu yang tepat untuk mengerjakan tugas dosen, meresume, membuat makalah, ppt, dan tetek bengeknya. Semangatqaqa ! begadang? Seriing, sudah biasaaaa, tenaaaang. . .


Ah lupa sampai mana tadi? Oh ya maaf banyak ngelantur haha. Jadi gini ceritanya, saat acara baru saja dimulai walaupun dia tak kunjung datang aku  tetap duduk menunggunya, tiba-tiba aku dijawil “mbak, mbak fatih suruh bantu ngurus anak-anak”.  Aku lumayan kaget dijawil dari belakang, dengan spontan kujawab “aku?, aku mbak?” sambil biasa seperti orang tak menyangka tanganku menunjuk ke diriku sendiri. Ia yang tak kutahu namanya itupun mengangguk.
Aku bediri dan langsung ke ruangan anak-anak. Disitu aku ikuti acara anak-anak dari mulai pembukaan, penyampaian materi siratun nabi, kemudian tiba waktunya aku membimbing anak-anak menulis surat untuk ibu dan mewarnai gambar yang telah disediakan. Padahal kau tahu? Itu juga kesempatan aku bertemu dengannya, melepas rindu. Tapi ya kujalani saja. Toh, these too will be past. Menyenangkan walaupun awalnya bingung. Anak-anak yang hadir banyak, mulai dari yang paud sampai smp.
Dalam benak banyak sekali pertanyaan, aku awalnya bingung, anak-anak-anak kan banyak, dari berbagai umur, ini mana yang sudah bisa menulis mana yang belum? Hadeeehhh. Akhirnya ku ucap bismillah dalam hati, dengan menarik dan menghela nafas ku ambil langkah seraya berkata “Adek-adek yang sudah bisa menulis ayo angkat tangan ya?” lalu setelah terlihat mana yang angkat tangan dan yang tidak, aku berkata lagi “Ayo yang sudah bisa menulis di samping kanan mbak ya, yang belum di sebelah sini, di kiri dan duduk melingkar ya” ku ambil kertas yang sudah ada gambarnya dan krayon serta hvs kosong. Lalu kubagikan kepada setiap anak. Bagi anak-anak yang sudah bisa menulis, mereka tidak hanya menulis surat tapi juga mewarnai gambar. Dan bagi yang belum bisa, mereka hanya mewarnai gambar saja.
Anak-anak terlihat asyik dengan mewarnai gambar, gambar seorang ibu yang memeluk anaknya, gambar bunga-bunga, dan lainnya. Dan untuk yang sudah bisa menulis surat, ku arahkan “adek-adek ayo tulis judul surat untuk ibu tersayang di bagian atas, seperti ini”, sambil ku tunjukkan punyaku. “Lalu deskripsikan ibu, bunda, mamah, atau ummi kalian, apa yang mau kalian sampaikan, sampaikan ya contohnya mau bilang aku sayang ibu, atau terimakasih atau juga maaf pada ibu ya. Tapi disitu kalian harus menulis alasannya Oke? Mbak nya ngga lihat alasannya kok nanti kalian malu hehehe”, ucapku sambil menutup mataku dengan kedua tangan.
“Ayo yang bandel ngaku ! tulis kesalahan kalian, eh aku juga ding hihi. Oh iya kalian juga bisa tulis setelah kalian besar nanti apa yang kalian mau lakukan, berikan atau apapun itu pada ibu ya.” Anak-anakpun mengangguk. Aku kesana kemari mengecek tulisan mereka hihi ku intip ada beberapa yang salah tulis jadi ku benarkan, ada juga yang masih bingung jadi ku arahkan kata-katanya agar dapat dipahami serta ku bantu juga mewarnai gambar milik anak-anak. Tak terasa waktu sudah menunjukkan untuk shalat dhuhur, sedari pagi aku belum bertemu dengannya. Tapi kan aku terikat, masih harus menyelesaikan tugasku. . . batinku, gelisah hmm. “Adek-adek yang sudah ayo dikumpulkan dan jangan lupa tulis nama kalian di atas ya”, kataku.
Tiba-tiba seorang wanita yang memakai mukena datang menghampiriku “Oh kakak dari tadi tak cari tak tanya orang kesana kemari ternyata disini ya”, ucapnya sambil menahan air matanya. Mataku terbelalak, aku berdiri dan lebih mendekat mendekat lagi, yang kunanti iya iaaaa, dia. Aku kaget, bahagia. Lalu aku bersalaman dengannya sambil masih tak menyangka ini dia, iya ia disini. Ia memelukku dan kudekap pula ia, kupanggil ia ummiiiiii aaaaaaaaaaa ({}). Aku tak tahu jatuhkah air matanya atau tidak. Yang kutahu akhirnya penantianku rasa rinduku terobati juga.
Belum puas melepas rinduku, aku teringat tugasku, anak-anak ah iyaa, “bentar ya ummii”, kataku pelan. “Adek-adek sudah belum mewarnai dan menulis suratnya? Ayo sini yang sudah yaa”. Aku sibuk mengumpulkan surat mereka dan kertas gambar yang mereka warnai. Aku cek satu-satu sudahkah mereka tulis nama mereka. Lalu kutengok tempat tadi dimana aku dipeluknya, dimana ia? Mungkin sudah siap-siap untuk shalat, batinku. “Yasudah yang sudah ambil air wudhu yaa kalian shalat setelah itu makan siang”, tegasku sambil merapikan krayon yang berantakan di sana sini. Aku bergegas mengambil air wudhu untuk shalat. Kemudian saat akan mengambil makan siang aku bertemu dengannya lagi, alhamdulillah J, “ummiiii, maem”, kataku manja. Ia malah mau mengambilkan makan dan minumku hihi ya begitulah perhatiannya ia, kalau aku ngelunjak ya minta disuapi hehehe.  
Acara dilanjutkan lagi, kuputuskan aku ikut acara di ruangan ibu-ibu. Kesempatan. . . melepas rindu. Eh eh aku malah didorong-dorong bulek-bulekku  ikut lomba hafalan bacaan shalat dengan artinya mewakili cabangku. Padahal tak ada persiapan apa-apa. Yasudah maju sajalah.
Acara demi acara berlalu, waktu terasa cepat sekali berjalan. Ternyata sudah sore. Di penutupan acara kami berdoa dan pengumuman juara baik lomba menulis surat untuk ibu, lomba mewarnai, hafalan shalat dengan artinya dan lomba memasak percabang. Alhamdulillah cabang kami mendapat juara lomba memasak dan hafalannya.
Waktunya berpisah lagi, kami bersalaman dan pelukan seperti telethubbies wkw bukaaan bukan hehe *sok ngayal. Perpisahan yang tak diinginkan. Cie cie galau. Yasudah sudah. Jangan mewek. Hmm diperjalanan pulang lagi ke ma’had aku merenung, bersyukur pastinya sudah dipertemukan walaupun hanya beberapa jam. Walaupun masih tidak puas, ya begitulah manusia, aku. . . oh aku manusia ya xD. Yang jelas, sampai sekarang bahkan aku tidak menulis surat untukmu. Jahat ya. Tapi kau harus tahu bahwa aku selalu sangat mencintaimu, menyayangimu, bangga memilikimu, merindukanmu dan sangat ingin membahagiakanmu.
Terimakasih sudah mendoakanku, mengandungku, melahirkanku, merawatku, mendidikku, menyemangatiku, mensupportku, memasak makanan dan membuat minuman untukku, melakukan segalanya bagiku, menanggung beban atas apapun yang kulakukan atau aku mau, memamah makanan yang tak bisa ku telan karena tak kunjung gigiku tumbuh dulu,  mengobatiku saat aku sakit, menungguiku saat aku sakit hingga tak pernah tidur, memberikan membelikan, apa yang aku mau, melawan ketakutan yang aku takuti, mengingatkanku ketika aku salah dan malas, dan memotivasiku.
Maafkan aku yang bandel, suka cemburu, susah diingatkan, susah diatur,  memaksakan kehendak, mengharapkan yang lebih, kadang membangkang, keras kepala, malas, tidur hehe, tidak rajin, belum bisa memenuhi keinginanmu, belum bisa berbuat apa-apa untukmu, dan yang kurang bisa mengertimu, membahagiakanmu ini. Maafkan aku pula yang sampai saat ini belum bisa sehari semalam saja bermalam di rumah, tolong jangan tanyakan lagi kenapa aku selalu pulang hanya beberapa jam di rumah ya, kau tahu kenapa? Karena aku selalu tak dapat menjawab pertanyaanmu. . . Aku selalu tak kuasa dan hanya bisa memeluk dan memanggil namamu. Senyummu segalanya bagiku, dengan senyummu aku hidup.  ummii ~  Jadi maafkan aku yang selalu merindukanmu. Selalu aku mencoba, di setiap waktu untuk mendoakanmu dan sampai saat ini, baru hanya ini yang bisa kulakukan. Terimakasih ummii . . . Terimakasih

Well, this is my speech :)



Good Attitudes That Must Be Taught To Our Children Since They Are Young

Good attitude is the main supplies to sosialize. But still, some people don’t care about that. These are some good attitudes that must be taught to our children since they are young :

1.      Saying “salam” and greeting everyone who meets them. It teaches them to care about athers and to pray for their safety, beacuse “salam” means “safety”.
2.      Saying excuse me. It teaches them always ask permission when they want todo something. It also educates them to always be polite and to prevent them doing everything as they want.
3.      Asking apology if they have mistake. It teaches them to admit their mistake and to be responsible for everything they did. It also educates them not to hurt the other people’s  feeling. So, if the parents have mistake, they must put aside their esteem and ask apology to their children. It can give a good example for them.
4.      Saying thank you if someone gives them something or helps them. It teaches themto appreciate and to be grateful for the gifts or the helps they get from the other people.
5.      Saying help me please. For example when they ask someone to take something that they can’t reach. It teaches them to ask something politely and prevent them to order the others rudely.
Our children’s mindset is like spons. They will absorb and imitate everything they see and hear in their environment. That’s why, as parents we should not only teach them good attitude, but we must also practice it by ourselves to give a good and real example for our children. Because usually, children consider their parents as a model, hero and adoration. Because of it, be careful when we teach everything to them.
Good attiitude is important because it can make the interaction and communication with other people run well. Certainly, it’s also so useful for our children in the future. Because good attitude is the main supplies for them to sosialize with the othes. With the positive attitudes they have learned since they are young, children can respect and appreciate all people around them like their teachers, friends, and others.   

Senin, 19 Desember 2016

Ini Untukmu



Rona Ibu

Derai suara kini tak terdengar lagi
Merampas hak dia yang dicuri
Mencabut kewajiban dari semestinya
Yang waktu tak memperdulikannya

Tak kau sapa ataupun toleh
Rona rindu sang dia, malaikat tanpa sayap
Hendak sampaikan angan
Tapi kau palingkan muka

Meradang, menyayat dia yang terabai
Karena lena dalam  asmara
Tenggelam dalam dunia
Mati dalam api berkhidmat

Hendak berujung pada apa?
Titik angan, ilusi,  ataukah delusi?
Ia tertunduk dengan kasih sayangnya
Sepanjang masa ia kirim pula

Doa tak lekang terucap
Mengguncang arasy-Nya
Demi siapa? Ia bepeluh-peluh
Ia menderita, tapi ia simpan

Jauh kau sudah melangkah
Tanpa menyentuh sanubari
Kata hati berbisik “ibu, ibu, maafkan anakmu ini”
Saat termenung mengetuk pintu jiwa

Diksi Kecilku



Diksi Kecilku

Aku bicara cinta atas nama-Mu, Yang Maha Kasih
Terhadap cinta yang Kau tanam, lalu kudekap erat
Menggema di ruang waktu, bertahan dalam keheningan
Aku tak punya dunia, selain disini. Bermain. Bayang.

Kukira aku puisi dalam lemari. Terkunci. Gelap. Sesak
Sudah hampir bulan kedua belas
Tidakkah Kau kunjung izinkan aku lagi?
Diksiku disana, aku disini. Ingin.

Keluar, pergi. Mencari diksi kecilku. Sungaiku
Arungi waktu. Angin sepi
Tanpanya aku bisu, aku tidak utuh. Jatuh
Luka. Menanti. Pagi tiba, tapi tanah tetap setia menengadah

Air mata tumpah. Basah.
Bahagia, masih. Dapat ingat
Puing kenangan. Tersusun. Isak haru
Diksi kecil, tunggu aku.


Bukan Pengepul Kata



Bukan Pengepul Kata

 

Di ranjau malam, seruak angin berhembus

Dedaunan melambai-lambai

Tapi lamunan ini tak kunjung berhenti

Meraup jiwa yang tersentak kata

 

Padi, air, jasa, dan bangsa memprotes

Mengapa mereka terbengkalai

Entah salah siapa, kewajiban siapa

Ditinggal begitu saja tanpa wajah dosa

 

Mereka menuntut, hei kalian sedang apa?

Apa yang kalian lakukan selama ini?

Membuang waktu sia-sia, melumat hal tak penting

Meracuni diri, membunuh potensi diri

 

Tidak, sungguh lihatlah ini

Untuk apa? Ayo cepat lekaslah bangun !

Menggarap cita bangsa

Menggapai asa di tiap insan

 

Ingat ! kita bukan pengepul kata

Yang diam tanpa daksa

Yang bisu tanpa tindak

Dan khusyu’ dalam kesendirian

 

Segeralah tengok !

Iya benar, kita adalah satu

Pengemis doa, pengais harap

 Pengepul mimpi, pewujud cita bangsa