Sabtu, 22 Agustus 2020

Apa Aku Berhak Bertanya?


Hai, lama tidak menyapa.

Ada yang ingin kusampaikan. Tapi yang akan kusampaikan ini juga karena kegelisahanku yang tak berujung. Yang dalam keegoisanku, aku masih aku, yang memiliki keinginan, yang punya harapan. Manusiawi bukan? 


Aku tidak ingin berbelit-belit, tidak ingin berbasa-basi. Karena kurasa Aku tidak memiliki waktu yang banyak. Jadi tolong dengarkan Aku. 


Aku tidak begitu baik dalam melukiskan perasaanku dengan kata-kata, memberikanmu perhatian dengan berucap ini itu. 


Karena selama ini, Aku hanya bisa berbagi cerita saja padamu. Dan kurasa kamu hanya bisa memvalidasi perasaanku dari pandangan mataku. Kamu sudah tahu perasaanku karena telah benar-benar melihat mataku. Aku percaya itu. Karena kamu orang yang paling tahu diamku. 


J, 


Aku merasa tenang, gelisah, senang, sedih, di saat yang sama Aku menyampaikan ini. 


Harus berapa kali Aku mencoba menghindarimu hanya untuk tidak membuatmu semakin terluka? 

Harus berapa kali Aku marah hanya untuk membuatmu mengerti kalau Aku sedang mencemaskanmu? 

Harus berapa kali Aku diam hanya untuk membuatmu mengerti bahwa Aku merindukanmu? 

Harus berapa kali Aku berlelah-lelahan menyiapkan jawaban oleh pertanyaanmu padahal Aku hanya ingin memandang matamu kemudian menghabiskan waktu bersamamu? 


J, 


Aku hanya tidak tahu berapa kali dan harus seberapa keras lagi Aku mencoba selama ini, untuk bersedia menyadarkan diri bahwa kamu hanya imaji yang terus kuimpikan. Aku tetap tidak bisa. 


Tidak bisa. Meskipun Aku berdalih, kamu ini aneh. Aku ini aneh. Tidak masuk akal. Kita hanya bertemu dua kali. Kita hanya berkabar sesekali. Kita hanya sedikit berbagi cerita. Kita hanya sedikit mengerti. 


Tapi entah mengapa Aku merasa menjadi diriku yang utuh ketika bersamamu, ketika dekat denganmu. 


Aku merasa seperti tidak memerlukan apa-apa lagi di dunia, Aku merasa bisa menjadi lebih berani, Aku merasa bisa melepaskan kecemasan-kecemasanku. Aku merasa mampu melakukan apapun yang Aku mampu lakukan ketika kamu Ada, ketika kamu bersamaku dan saat kita berdekatan. 


Entah itu dari kata-kata darimu meski kita berjarak ribuan kilometer. Maupun fisikalmu tepat berada di dekatku. 

Semua menenangkan, semua menjadi membahagiakan. Membawa nafas-nafas baru di kehidupan ku. 


Apakah kamu juga begitu? 


J, 


Sebagai perempuan, bolehkah aku meminta kejelasanmu? 


Apakah Aku berhak bertanya padamu?


Apakah Aku salah jika menyampaikan ini padamu? Apakah Aku akan membuatmu makin tersiksa? Apakah Aku akan membuatmu semakin sedih?

Apakah Aku boleh menemanimu? 

Apakah Aku boleh menemanimu dengan kasih sayang dalam melewati perjalanan ini? 


Maafkan Aku. Maaf sudah mengatakan ini semua.


Aku hanya perempuan bodoh yang memberikan kesakitan dan kehampaan. 


Atas cerita-ceritaku, atas tindakanku. Maafkan Aku. 


Bahkan dirimu masih bisa mendapatkan teman yang mampu memberikan kehidupan. Yang tidak ada lagi kesepian dan kesendirian. 


Harapan-harapan baik selalu kulantunkan untukmu. 


Tidak ada yang lebih membahagiakanku daripada mendengar bahwa dirimu baik-baik saja. Tidak ada lagi yang lain. Tidak ada. 


Terimakasih, sudah memberiku banyak hal untuk direnungkan dan divalidasi. Terimakasih sudah membuatku utuh saat bersamamu, saat dekat denganmu. Terimakasih.

Minggu, 19 Juli 2020

Sudah

Aku tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan lagi..

Tapi, jika aku boleh meminta pada-Mu,

Aku ingin dicintai di perjalanan selanjutnya..

Tidak dikabulkan atau tidak diterima juga tidak apa-apa..

Sudah, itu saja..
Terimakasih :)

Kamis, 16 Juli 2020

Berpikir Kembali

Terkadang jika ditanyai apa kesanmu terhadapku?

Sebenarnya yang diingat adalah sebuah moment bersama orang tersebut, atau sesuatu yang khas darinya menurutku pribadi..

Ada yang kuingat senyumnya, atau saat dia terkekeh, pertanyaan yang selalu dilontarkan "kenapa?", saat orang  itu berjalan mengikutiku dibelakangku, betapa menyebalkannya bentakan seseorang, tatapan mata yang tajam, hingga tak ada pikiran apapun.. yang setelah dipaksa-paksa mengingat, "Ohh iya dia terbiasa dengan begini, memakai ini, dan juga khas dengan kemampuannya yang ini."

Apakah kamu juga pernah berpikir atau bertanya bagaimana kesan orang lain terhadapmu? Apakah itu sesuatu yang penting? Mengenai bagaimana kita akan diingat?

Sebagian orang dipertemukan untuk suatu hal kemudian berpisah dan tidak pernah bertemu lagi, sebagian lagi menjadi kisah yang sudah lalu, kemudian ada juga yang diambil banyak nilai darinya-dijadikan panutan karena memiliki semangat tertentu dalam melakukan sesuatu,
dan tentu, hanya beberapa yang menjadi orang-orang dalam circle.

Suatu waktu ada teman yang bercerita, entah mengapa dia mengatakan bahwa hidupnya-perjalanannya, hanya berisi pembuktian-pembuktian saja.

Apakah itu sesuatu yang baik? Ataukah itu sesuatu yang menyedihkan? Entah lah, Aku juga tidak tahu.

Tapi Aku jadi berpikir kembali dengan tujuan hidupku. Dan akan menjalani hidup yang seperti apa..

Jalani saja?

Aku sudah bosan mendengar kata itu, karena tanpa dibilang pun Aku sudah menjalaninya.

Hening dulu,
setelah itu jalani lagi..
Ya sudah lah.
Begitu saja terus (?)

Selasa, 07 Juli 2020

Pertemuan



Berjumpa denganmu kembali merupakan hal yang aku tunggu-tunggu. Meski kita hanya pernah bertemu dua kali, rasanya kita sudah sering berjumpa pada percakapan-percakapan hening yang kita lakukan setiap saat.

Kamu sudah memahamiku, dan juga tidak perlu berlelah-lelahan menjelaskan. Karena aku juga dapat mengertimu.

Terkadang jika aku mengingatmu dalam percakapan-percakapan heningku, aku berdoa bahwa kita bisa dipertemukan kembali. Bahwa kita menjadi teman yang tak lekang oleh waktu, bahwa dalam perjalanan-perjalanan kita, kita tidak pernah merasa sendiri dan sepi, bahwa selalu akan ada ketenangan dan senyuman ketika kita saling mengingat nama, wajah, sikap, ataupun cerita-cerita yang telah kita bagi. Baik di kehidupan ini, maupun nanti.

Apakah doaku ini adalah sesuatu yang indah? Entahlah.

Mengapa juga kita telah merasa jauh mengerti satu sama lain padahal kita hanya pernah bertemu dua kali. Padahal kita dipisahkan jarak ribuan kilometer, padahal kita hanya beberapa kali berkabar dalam setahun, padahal kita tidak hidup dalam satu circle ikatan yang saling membutuhkan.. seperti ikatan komunitas, ikatan organisasi, maupun ikatan-ikatan lainnya.

Aneh bukan? Keterhubungan macam apa ini?

Aku selalu bertanya-tanya tentang hal itu. Yang sampai sekarang masih membuatku bingung. Dan beranggapan bahwa ini adalah bentuk hubungan yang aneh, yang sebenarnya juga aku syukuri.

Karena dirimulah aku merasa telah diperlakukan sebagai manusia yang lebih utuh. Aku menjadi tidak takut menjalani kehidupan. Mungkin hanya satu dua orang saja dalam hidupku yang bisa kupercaya dan mempercayaiku.

Kamu yang mengatakan dengan tulus bahwa kamu mempercayaiku. Bahwa kamu percaya, aku bisa melakukan apapun yang aku mampu untuk lakukan.

Kepercayaan memang hal yang berharga, yang tidak setiap orang dapat memberikannya.. Yang bahkan orang terdekatmu, orang sekelilingmu belum tentu mau memberikannya padahal kamu dalam kondisi membutuhkannya.

Itu mungkin semacam sesuatu yang membuat seseorang berani memilih, berani mengambil keputusan, dan berani melepaskan kekhawatiran-kekhawatirannya.. Sesuatu yang membuat kita dapat berkembang lebih baik. Karena kepercayaan bagaikan secercah harapan, bagaikan sebuah tarikan dan hembusan nafas seseorang..

Terimakasih karena kamu selalu menggunakan kata yang benar, kata dan sikap yang selalu kutunggu dan impi untuk dapatkan..

Hei, sungguh menyenangkan sekali bisa mengenalmu.

Kau tahu? Aku sangat senang.. saat terakhir kali aku bisa melihat caramu berjalan, caramu makan, saat kamu bertanya ini itu, saat kamu bercerita, dan saat melihat ekspresimu ketika ada ulat yang jatuh di bahumu..

Aku menyukainya, mungkin semua yang ada pada dirimu. Tulisan-tulisanmu juga, Aku sangat mengaguminya. Tidak hanya menjadi bentuk kekecewaan dan perlawanan saja.. Tapi juga sebagai bentuk refleksi tersendiri bagi hidupku yang masih tidak jelas ini.

Satu hal yang paling aku favoritkan darimu, kamu selalu menjadi orang yang berani. Berani dalam bersikap, berani dalam mengungkapkan  gagasan-gagasanmu, perasaanmu, dan berani menjadi diri sendiri dengan terus memegang teguh nurani serta kemanusiaanmu.

Aku jadi pencemburu terhadap semua yang kamu lakukan.. Doakan Aku ya!

Semoga hal-hal baik selalu mengiringimu, selalu ada padamu. Sampai berjumpa kembali di waktu yang entah kapan kita tidak bisa tebak. Sampai berjumpa kembali di percakapan-percakapan hening yang kita lakukan setiap saat.

Kamis, 09 Agustus 2018

Harus Bagaimana

Harus seperti apakah duniaku, jika yang kau pinta adalah seperti duniamu?
Harus seperti apakah aku, jika yang kau mau adalah seperti dirimu?
Harus bagaimanakah aku bertindak; anak kecil, anakmu, seorang kakak, seorang dewasa, orang lain, orang asing, bonekamu, atau robotmu?
Harus bagaimanakah caraku untuk memilih; berdoa, mendiamkan, menangis, berbicara, menulis atau marah?
Harus kapankah aku keluar dari sangkar; ketika tidak bisa apa-apa, bingung, lapar, haus, sakit, sehat, atau mati?
Jawab aku!

Minggu, 05 Agustus 2018

Angin dan Manusia

akhir-akhir ini angin berderu kencang
laiknya aku yang menyebut namamu lancang
mungkin anomali cuaca terjadi karena sudah begitu rusaknya alam ini
laiknya jeritanku yang muncul karena sudah tak tertahankan lagi
alam berkata, "kenapa aku menjadi seperti ini?"
batinku pun bertanya, "kenapa kau tak pernah memahami?"
alam berisyarat, lihatlah aku
aku mengingat, ceritalah padaku
tapi hanya angin yang terus mondar-mandir
anak kecil ia, terus berbicara berulang-ulang dengan perkataan yang sama, meminta sesuatu
orang gila ia, terus bercerita berulang-ulang dengan kisah yang sama, ingin sesuatu
ada yang mengerti pada anak kecil
banyak yang tidak pada orang gila
dasar, sebenarnya kenapa angin ini?
tak hentinya ia terus berhembus di bulan ini
dasar, sebenarnya kenapa manusia ini?
tak hentinya ia terus berpura-pura di balik sajaknya

Minggu, 22 Juli 2018

Awalnya

Awalnya aku suka
Lalu aku bosan
Awalnya aku tidak suka
Lalu aku terbiasa
Awalnya aku buka
Lalu aku jelajah
Awalnya aku tutup
Lalu aku maklum
Awalnya aku.
Semua
Taksa
Rasa
Jiwa
Kembali bermuara
Awalnya
Aku