Selasa, 12 Juni 2018

Mengatasi Masalah Kesehatan Mental


1. POST POWER SYNDROME
Berhenti bekerja pada umumnya dipersepsi dengan perasaan negatif dan tidak menyenangkan. Hilangnya fasilitas dan jabatan, pujian dan lain-lain sering dirasakan sebagai beban mental dan tidak mampu disikapi secara psikis yang wajar sehingga berkembang menjadi simptom gangguan mental yang dikenal dengan Post Power Syndrome (sindrom purna kuasa).
Post Power Syndrome adalah reaksi somatik dalam bentuk simptom penyakit, kerusakan fungsi jasmani dan mental yang progresif karena berhenti dari aktifitas kerja. Simptom penyakit itu disebabkan karena tekanan batin, kekecewaan, kecemasan dan ketakutan yang mengganggu fungsi organik dan psikis.
Penyebab terjadinya Post Power Syndrome adalah :
1) Merasa tersisih dari apa yang ingin dimiliki atau dikuasai.
1) Merasa kecewa dan sedih yang berkepanjangan karena hilangnya pekerjaan yang mensejahterakannya.
2) Emosi negatif yang kuat sehingga menjadi reaksi somatik (sistem peredaran darah, jantung, sistem syaraf dan lain-lain) dan mempercepat kematian.
Terapi Mengatasi Post Power Syndrome :
Menumbuhkan kesadaran penderita (klien) untuk :
1) Ikhlas menerima realitas.
2) Bersyukur dengan apa yang sudah dianugerahkan Tuhan
3) Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dg banyak berdzikir.
4) Tawakkal dengan kehidupan selanjutnya.
2. KETEGANGAN DAN KONFLIK BATIN
Ketegangan (stress) dan konflik batin atau pertentangan psiche karena suatu hal adalah peristiwa kejiwaan yang wajar dan tidak perlu ditakutkan. Yang penting tidak menyebabkan frustrasi.
Stress dan konflik batin bukan penyakit mental, tetapi hanya karena belief system atau persepsi ttg peristiwa yang dihadapi (secara positif/negatif, rasional/irrasional) saja.
Terapi Mengatasi Stress dan Konflik Batin :
1) Memberikan empati kepada klien.
2) Membantu menyelesaikan masalah klien dengan :
a) Melakukan substitusi (mengubah perilaku negatif menjadi positif, kreatif dan aktif).
b) Melakukan sublimasi (merubah egosentrisme dalam bentuk sifat, sikap dan perilaku yang lebih terpuji dan mulia)
a) Mendorong klien untuk melakukan resignasi ( rasa tawakkal kepada Tuhan).
b) Mendorong klien untuk banyak tafakur (berfikir mendalam dan mawas diri dengan jalan mengadakan distinasi terhadap realitas yang dihadapi)
c) Mendorong klien untuk melakukan kompensasi (mengimbangi  kegagalan dengan usaha yang lebih baik).
3) Menanamkan nilai-nilai spiritual dan keagamaan kepada klien












**materi ini disampaikan oleh dosen mata kuliah kesehatan mental (bu Dewi Khurun Aini) pada kelas psikologi UIN Walisongo Semarang

Layanan Konseling Untuk Pengembangan Mental Sehat


TEORI KONSELING ‘TRAIT & FACTOR”
PROSES KONSELING :
1. Analisis. Tahapan kegiatan yang terdiri dari pengumpulan informasi dan data yang dapat dipercaya, tepat dan relevan untuk mendiagnosis pembawaan, minat, motif, kesehatan jasmani dan keseimbangan emosional klien yang memungkinkan dapat mendukung proses konseling. Analisis dapat dilakukan dengan catatan kumulatif, wawancara, otobiografi, catatan anekdot, test psikologi dan sebagainya.
2. Sintesis. Langkah merangkum dan mengatur data dari hasil analisis sehingga menunjukkan bekat klien, kelemahan dan kekuatannya serta kemampuan penyesuaian dirinya.
3. Diagnosis. Upaya untuk menemukan ketepatan dan pola yang dapat mengarahkan pada permasalahan, sebab-sebabnya dan sifat-sifat klien yang relevan dan berpengaruh pada proses penyesuaian diri.
Langkah diagnosis :
1) Identifikasi masalah yang sifatnya diskriptif dengan menggunakan kategori :
a) Kategori Bordin :
a. Dependence (ketergantungan)
b. Lack of information (kurangnya informasi)
c. Self conflict (konflik diri)
d. Choice anxiety (kecemasan dlm membuat pilihan)
b) Kategori Pepinsky :
a. Lack of assurance (kurang dukungan)
b. Lack of information (kurang informasi)
c. Lack of skill (kurang memiliki keterampilan)
d. Dependence (ketergantungan)
e. Self conflict (konflik diri)
2) Menentukan sebab-sebab, mencakup hubungan masa lalu, masa kini dan masa depan.
3) Prognosis, perkiraan-perkiraan logis dan intuitif yang memungkinkan dapat membantu klien untuk mengambil tanggung jawab secara logis meskipun secara emosional belum bisa menerima.
4. Konseling, hubungan membantu klien untuk menemukan sumber diri dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal. Jenis sifat konselingnya adalah
Belajar terpimpin menuju pengertian diri.
Mendidik sesuai dengan kebutuhan diri untuk mencapai tujuan kepribadiannya dan penyesuaian hidupnya.
Membantu klien supaya mengerti dan terampil dalam menerapkan prinsip dan teknik yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Mendidik klien yang sifatnya katarsis atau penyaluran.
5. Tindak Lanjut, bantuan menghadapi masalah baru sehingga menjamin keberhasilan konseling.
TEORI KONSELING RATIONAL EMOTIVE
Teknik-Teknik Terapi.
RET menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif dan behavioral. Teknik-teknik terapi itu adalah :
A. Teknik-Teknik Emotif
1. Teknik Assertif Training, teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara kontinyu menyesuaikan diri dengan perilaku tertentu yang diinginkan. Latihan yang diberikan lebih bersifat mendisiplinkan diri.
2. Teknik Sosiodrama, teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan melalu suasana yang didramatisasikan sehingga klien dapat secara bebas dapat mengungkapkan dirinya secara lisan, tulisan atau gerakan-gerakan dramatis.
1. Teknik Self Modeling, teknik yang digunakan untuk meminta klien agar memberikan komitmen dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
2. Teknik Imitasi, teknik yang digunakan dimana klien diminta menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya yang negatif.
B. Teknik-Teknik Behavioristik.
Teknik ini digunakan terutama dalam upaya memodifikasi perilaku-perilaku negatif klien dengan mengubah akar keyakinannya yang tidak rasional dan tidak logis. Teknik-teknik tersebut adalah :
1. Teknik Reinforcement teknik yang digunakan untuk mendorong klien ke arah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal atau punishment.
2. Teknik Social Modeling, teknik yang digunakan untuk memberikan perilaku-perilaku baru pada klien dengan cara imitasi.
3. Teknik Live Models, teknik yang digunakan untuk menggambarkan perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dalam memecahkan berbagai masalah.
C. Teknik-Teknik Kognitif.
Teknik ini digunakan untuk mengubah sistem keyakinan yang irasional klien serta perilaku-perilakunya yang negatif. Klien dimodifikasi aspek kognitifnya agar dapat berfikir dengan cara rasional dan logis.
Teknik-Teknik Kognitif itu antara lain :
1. Home Work Assigments, teknik pemberian tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri serta menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan sehingga diharapkan klien dapat menghilangkan ide-ide serta perasaan-perasaan yang irrasional dan tidak logis dalam situasi-situasi tertentu.
2. Teknik Assertive, teknik yang digunakan untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui “role playing” (bermain peran), “rehearsal” (latihan) dan “social modeling” (meniru model-model sosial).
TEORI KONSELING BEHAVIORAL
Methode konseling (menurut Krumboltz) dikategorikan dalam :
1. Operant learning approach. Hal yang penting dari pendekatan ini adalah penguatan (reinforcement) yang dapat menghasilkan perilaku klien yang dikehendaki. Hal yang harus diperhatikan :
a. Penguatan yang diterapkan hendaknya memiliki cukup kemungkinan untuk mendorong klien.
b. Penguatan hendaknya dilaksanakan secara sistematik.
c. Konselor harus mengetahui kapan dan bagaimana memberikan penguatan.
d. Konselor harus dapat merancang perilaku yang memerlukan penguatan.
2. Unitative learning approach, atau social modeling approach. Pendekatan ini diterapkan oleh konselor dengan merancang suatu perilaku adaptif yang dapat dijadikan model oleh klien.
Model-model perilaku adaptif bisa dalam bentuk rekaman, video, film, pengajaran berprogram, orang atau biografi.
1. Cognitive learning approach.Pendekatan ini diterapkan untuk merubah kognitif klien dalam upaya membantu memecahkan masalahnya.
2. Emotional learning approach. Pendekatan ini dilakukan dalam rangka pembelajaran emosional individu yang mengalami suatu kecemasan. Pelaksanaannya dilakukan dalam suasana rileks dengan menghadirkan rangsangan yang menimbulkan kecemasan bersama dan menyenangkan sehingga kecemasan individu berkurang dan pada akhirnya dapat dihilangkan.












**materi ini disampaikan oleh dosen mata kuliah kesehatan mental (bu Dewi Khurun Aini) pada kelas psikologi UIN Walisongo Semarang

Perkembangan Kesehatan Mental Di Lingkungan Kerja


Lingkungan Kerja → mencegah terjadinya masalah gangguan emosional & memperkecil sumber-sumber yang menyebabkan terjadinya stress.
Sumber yang mengakibatkan gangguan mental / emosional atau terjadinya  stress  di lingkungan kerja antara lain :
1) Frustrasi
2) Konflik
3) Mismet profesi kerja
4) Kompetisi
5) Beban kerja
6) Lingkungan fisik tempat kerja
7) Tidak adanya komunikasi terbuka dan lain-lain.
Kepuasan kerja adalah cara seorang pekerja merasakan pekerjaannya. Teori yang menjelaskan kepuasan kerja antara lain :
A. Teori Ketidak Sesuaian (Discrepancy Theory)
Kepuasan atau ketidakpuasan dengan aspek pekerjaan itu tergantung pada selisih antara apa yang sudah didapatkan dengan apa yang diinginkan. Jumlah yg diinginkan adalah jumlah minimum yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan.
B. Teori Keadilan (Equity Theory)
Teori keadilan merupakan variasi dari teori proses perbandingan sosial. Komponen utamanya adalah :
1. Input, sesuatu yang bernilai bagi seseorang yang dianggap mendukung pekerjaannya  seperti pendidikan, pengalaman, kecakapan, jumlah jam kerja dan lain-lain.
2. Hasil,sesuatu yang dianggap bernilai dari pekerjaannya seperti  upah/gaji, penghargaan, status dan lain-lain.
3. Orang Bandingan, orang dalam organisasi dengan pekerjaan terdahulunya.
4. Keadilan-Ketidakadilan, jika ratio hasil berbanding input seorang pekerja adalah sama atau sebanding dengan ratio orang bandingannya, maka terdapat keadilan dan pekerja mempereoleh kepuasan. Pendidikan : Upah
5. Hubungan sebab-akibat antara kepuasan dan pelaksanaan kerja itu adalah sebagai berikut. :
Hasil yang dihadiahkan → Kepuasan pekerja → Motivasi bagi para pekerja → Pelaksanaan kerja para pekerja.  
Ketidakpuasan dan Penarikan Diri.
Ada hubungan yang konsisten antara ketidak-puasan dengan penarikan diri dalam bentuk pindah kerja dan absensi. Perilaku penarikan diri ini mempunyai akibat-akibat yang tidak diinginkan bagi organisasi (kelancaran kerja, penundaan produk, peningkatan beaya “gaji sakit” dan lain-lain.)
Ketidakpuasan dan Agresi.
Frustrasi yang menyertai ketidakpuasan kerja dapat mengakibatkan perilaku agresif. Bentuknya bisa sabotase, sengaja melakukan kesalahan, pemogokan kerja, pelambatan kerja, protes yang berlebihan dan tindakan agresi lain.
Mengapa timbul ketidakpuasan kerja ?
Pengawasan yang lemah
Kondisi kerja yang lemah
Kurangnya keamanan kerja
Kompensasi yang tidak adil
Kurangnya kesempatan untuk maju
Konflik pribadi diantara pekerja
Bagaimana menyembuhkan ketidakpuasan ?
Merubah kondisi kerja, pengawasan, kompensasi atau rancangan pekerjaan.
Memindahkan pekerja ke pekerjaan yang lain guna mendapatkan pasangan yang lebih baik.
Mengubah persepsi atau harapan para pekerja yang tidak puas.
Prefensi terhadap ketidakpuasan kerja.
Pengelolaan upah yang baik → menghindari rasa ketidakadilan pekerja.
Sistem seleksi dan diklat → menciptakan pasangan yang tepat antara tuntutan pekerjaan dengan karekteristik pekerja.


**materi ini disampaikan oleh dosen mata kuliah kesehatan mental (bu Dewi Khurun Aini) pada kelas psikologi UIN Walisongo Semarang

Kesehatan Mental Dalam Keluarga dan Masyarakat


Kesehatan Mental dalam Lingkungan Keluarga dipengaruhi oleh :
1. Kebiasaan, sikap hidup dan filsafat hidup keluarga, misalnya :
1) Kebiasaan orangtua yang temperamental → defec temperamen dan demoralisasi phisik dan psikis.
2) Kualitas rumah tangga → delinquensi dan kriminalitas anak, mental disorder pada anak, inferior , giving-up dan sebagainya.
3) Dan sebagainya.
2. Kondisi Sosial-Ekonomi Keluarga → mendorong perilaku kriminal dan asusila karena ambisi material.
3. Struktur Keluarga yang abnormal, seperti :
1) Tidak disadarinya fungsi masing-masing anggota keluarga.
2) Intimasi anggota keluarga yang renggang.
3) Perilaku orangtua yang tidak mencerminkan teladan yang baik.
4) Orangtua tidak mempunyai relasi simbiotik dengan anak.
Keluarga yang memproduksi anak menjadi neurotik :
1) Keluarga yang menuntut kepatuhan total anak → pengembangan mekanisme pertahanan ego (represi, deniel atau penyangkalan,  displecement atau pemindahan pemuasan kebutuhan impuls,  proyeksi dan sebagainya).
2) Dominasi, kekuasaan mutlak dan sikap otoriter orangtua → agresi pada anak, neurotik, illusif, delusif dan sebagainya.
3) Konflik orangtua → tidak merasa aman di lingkungan keluarga → giving-up,  proyeksi, fixatie dan sebagainya.
4) Pola hidup orangtua yang tidak konstan dan tidak stabil → splitted personality, multiple personality yang neurotik.
Pengaruh Keluarga terhadap kesehatan mental.
1) Keberfungsian Keluarga
Menurut Stinned dan John de Frain
a) Terciptanya kehidupan beragama dalam keluarga
b) Tersedianya waktu bersama dalam keluarga
c) Terciptanya komunikasi yang baik antar keluarga
d) Saling menghargai  antar sesama anggota keluarga
e) Ikatan kekerabatan yang erat dan kuat
f) Mengutamakan kepentingan keluarga di atas kepentingan pribadi
Menurut Alexander A. Schniders :
a) Minimnya perselisihan antar orangtua atau orangtua-anak
b) Ada kesempatan untuk saling menyatakan keinginan
c) Penuh kasih sayang
d) Penerapan disiplin yang tidak keras
e) Ada kesempatan bersikap mandiri dlm berfikir dan berperilaku
f) Saling menghormati dan menghargai antara orangtua & anak
g) Ada musyawarah keluarga dalam memecahkan kesulitan
h) Terjalin kebersamaan dalam keluarga
i) Emosi orangtua stabil
j) Ekonomi kecukupan
k) Mengamalkan nilai-nilai moral dan agama
Menurut Dadang Hawari, anak yang dibesarkan dalam keluarga yg mengalami disfungsi mempunyai resiko lebih besar akan terganggu tumbuh kembang jiwanya. Ciri keluarga yang mengalami disfungsi :
a) Kematian salah satu atau kedua orangtua
b) Kedua orangtua bercerai (divorce)
c) Hubungan kedua orangtua tidak baik (poor marriage)
d) Hubungan orangtua dengan anak tidak baik (poor parent-child relationship)
e) Suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan
f) Orangtua sibuk dan jarang di rumah
g) Salah satu atau kedua orangtua mempunyai kelainan kepribadian.
Menurut Stephen R. Covey, perubahan situasi keluarga yang menyebabkan disfungsi itu adalah :
a) Anak yang lahir dari hubungan yang tidak syah (1997 anak yang lahir di luar nikah meningkat 400 %).
b) Single Parent (anak asuhan single parent berlipat ganda).
c) Perceraian (gugatan istri 68 % dan diceraikan suami 32 %).
d) Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT meningkat).
e) Seks bebas dan komersialisasi seks meningkat .
Hubungan Karakteristik Emosional dan Pola Perilaku Keluarga terhadap Struktur Kepribadian Remaja (Peck Loree) :
1) Remaja yang memiliki ego strenght (kematangan emosional, perilaku rasional, persepsi diri dan sosial yang akurat) berhubungan dg lingkungan keluarga yang saling mempercayai dan menerima.
2) Remaja yang memiliki superego strenght berkaitan erat dengan keteraturan dan konsistensi kehidupan keluarganya.
3) Remaja freindliness dan spontanity berhubungan erat dengan iklim keluarga yang demokratis.
Remaja yg bersikap bermusuhan dan memiliki perasaan gelisah atau cemas berkaitan erat dengan keluarga yang otoriter.







**materi ini disampaikan oleh dosen mata kuliah kesehatan mental (bu Dewi Khurun Aini) pada kelas psikologi UIN Walisongo Semarang

Pengaruh Agama Terhadap Kesehatan Mental


PENGERTIAN PENGARUH
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 849), “Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.”
Surakhmad (1982:7) menyatakan bahwa  pengaruh adalah kekuatan yang muncul dari suatu benda atau orang dan juga gejala dalam yang dapat memberikan perubahan terhadap apa-apa yang ada di sekelilingnya.
Jadi, dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengaruh merupakan suatu daya atau kekuatan yang timbul dari sesuatu, baik itu orang maupun benda serta segala sesuatu yang ada di alam  sehingga mempengaruhi apa-apa yang ada di sekitarnya.
FUNGSI AGAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
1. Agama dalam kehidupan individu
Agama bagi individu sbg sistem nilai yang memuat norma-norma tertentu. Menurut Mc Guire (26), sistem nilai yang berdasarkan agama dapat memberikan individu perangkat sistem nilai dalam bentuk keabsahan dan pembenaran dalam mengatur sikap individu. Menurut Kaswardi (1993, 20), Agama sebagai sistem nilai memiliki pengaruh dalam mengatur pola tingkah laku, pola pikir dan pola bersikap (intelektual, emosional dan behavioral).
Nilai adalah prinsip yang menjadi motivasi dalam hidup, yang memberi makna dan pengabsahan pada tindakan sehingga individu rela berkorban (jiwa, raga, harta).

Sebagai sistem nilai, motivasi dan pedoman hidup, pengaruh yang paling penting dari agama adalah sebagai consience (kata hati), yang menurut Erich Fromm (1988, 110) sebagai penggilan kembali manusia pada dirinya, atau menurut Shaftesury sebagai rasa moral dalam diri manusia berupa rasa benar dan salah, atau menurut filsafat skolastik sebagai kesadaran akan prinsip-prinsip moral.
Conscience  dikategorikan dalam :
1) Otoritarian conscience, yang dibentuk oleh pengaruh luar, yang berkaitan dengan kepatuhan, pengorbanan diri dan tugas-tugas manusia atau penyesuaian sosialnya.
2) Humanistic conscience, bersumber dari dalam diri sendiri, pernyataan kepentingan diri dan integrasi manusia(EF, 112-123)
Pendekatan agama (Islam) melihat conscience sebagai potensi dasar yang memberi arah dalam kehidupan, yang disebut fitrah. Potensi tersebut berupa :
1) Hidayat al ghariziyyat (naluri).
2) Hidayat al Hissiyyat (inderawi).
3) Hidayat al aqliyyat (nalar).
4) Hidayat al Diniyyat (agama).
Potensi Fitrah ↔ Lingkungan → memberi bimb. Pengembangan yg sejalan dg lingkungan → terjadi keselarasan.
→ dipertentangkan  dg lingkungan → ketidak seimbangan diri.
Pengaruh agama dalam kehidupan individu adalah memberi kemantapan batin, rasa bahagia, rasa terlindung, rasa sukses dan rasa puas sehingga agama menjadi motivasi, nilai etik & harapan.
Sebagai Motivasi, agama mendorong individu untuk melakukan aktivitas yang dilatarbelakangi oleh keyakinan agama sehingga aktivitas tsb mempunyai nilai kesucian dan ketaatan yang tulus.
Sebagai nilai etik, agama memberikan norma-norma yang boleh dan yang yang tidak boleh, yang baik dan yang buruk untuk dilakukan.
Sebagai harapan/asa, agama memberikan harapan yang menyenang-kan ketika melaksanakan perintah agama.
2. Agama Dalam Kehidupan Masyarakat.
Masalah agama tidak mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat karena norma-norma ajarannya sangat diperlukan oleh masyarakat. Setidaknya berfungsi :
1) Edukatif. Ajaran agama mendidik ummatnya untuk taat terhadap ajarannya, baik berkaitan dengan unsur perintah maupun larangannya sehingga agama mendidik dan membimbing agar pribadi penganutnya menjadi baik.
2) Penyelamat. Keselamatan yang diberikan agama adalah keselamatan duniawi dan ukhrawi.
3) Perdamaian. Orang yang berperilaku salah → berdosa → dapat di ampuni dengan bertaubat.
4) Social Control. Penganut agama terikat dengan ajaran agama sehingga agama berfungsi pengawasan sosial karena :
1) Agama secara instansi merupakan norma bagi ummatnya
2) Secara dogmatis (ajaran) mempunyai fungsi kritis yang bersifat profetis (samawi).
5) Pemupuk solidaritas. Secara psikologis penganut agama akan merasa memiliki kesamaan dalam kesatuan, yaitu keimanan dan kelembagaan agama sehingga rasa persaudaraan seagama bahkan bisa mengalahkan rasa kebangsaan.
6) Transformatif. Ajaran agama bisa mengubah kepribadian individu atau masyarakat menjadi kepribadian yang sesuai dengan ajaran agama, bahkan mampu mengubah kesetiaan terhadap adat atau norma kehidupan sebelumnya.
7) Kreatif. Ajaran agama mendorong dan mengajak penganutnya untuk bekerja produktif untuk dirinya dan ummat sehingga dituntut untuk melakukan kegiatan kreatif-inovatif.
1) Sublimatif. Ajaran agama menuntunkan bahwa semua usaha dan/atau kegiatan yang dimotivasi oleh Iman dan Kebaikan merupakan ibadah
PENGARUH AGAMA (daya membentuk watak, kepercayaan/perbuatan)
1) Membentuk kepribadian – Iman, Islam dan Ihsan dalam pola pikir, sikap, perasaan dan perilakunya.
2) Mengubah perilaku yang bersifat negatif (munkar, maksiyat, fahsya’ dan sebagainya)  menjadi perilaku yang positif (ma’ruf, khoir, muhsin dan sebagainya) dalam kehidupan seseorang atau sekelompok orang.
3) Menguatkan kesehatan mental karena dengan agama tumbuh kecenderungan berpikiran, berperasaan dan berperilaku yang normal, wajar, terpuji, tenang dan tentram.








**materi ini disampaikan oleh dosen mata kuliah kesehatan mental (bu Dewi Khurun Aini) pada kelas psikologi UIN Walisongo Semarang

Penyebab, Akibat dan Coping Stres


TEORI DASAR PENYEBAB STRES
1. Variabel Stimulus, variabel yang mengkonsepsikan stres sebagai suatu stimulus atau tuntutan yang mengancam (berbahaya) dan dapat mengakibatkan sakit. Maka stres dalam hal ini disebabkan oleh stimulus eksternal.
2. Variabel Respon atau phisiological approach (pendekatan fisiologis), mekanisme respon tipikal tubuh dalam merespon rasa sakit sehingga menimbulkan stres. Jadi stres dalam hal ini disebabkan oleh cara merespon suatu peristiwa.
Respon terhadap stres, dibedakan dalam :
1) Respon Emosional, menyatakan bahwa terdapat korelasi antara stres dengan suasana hati (mood), meliputi perasaan kesal, marah, cemas, takut, murung, sedih, duka cita dan lain-lain.
2) Respon Fisiologis, terdiri dari :
a) The Fight or Flight Response, reaksi fisiologis terhadap ancaman dengan memobilisasi organisme untuk melawan (flight) atau melarikan diri, menghindar dari sesuatu yang membahayakan.
b) The General Adaptation Syndrome, respon tubuh terhadap stres
3) Variabel Interaktif, meliputi teori :
a) Teori Interaksional, teori yang mengfokuskan pembahasan pada aspek (a) keterkaitan antara individu dg lingkungannya, dan (b) hakekat hubungan antara tuntutan pekerjaan dengan kebebasan mengambil keputusan.
b) Teori Transaksional, teori yang mengfokuskan pembahasannya kepada aspek kognitif dan afektif individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Tokoh teori ini (Lazarus) menyatakan stres itu sebagai hasil (akibat) dari ketidak-seimbangan antara tuntutan dan kemampuan.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRES
1) Stressor Fisik Biologik, seperti cacat fisik, penyakit yang sulit disembuhkan, wajah tidak cantik/tampan dll.
2) Stressor Psikologik, seperti negative thinking, frustrasi, hasud, sikap permusuhan, rasa cemburu, konflik pribadi dll.
3) Stressor Sosial, terdiri dari :
a) Iklim Kehidupan Keluarga, seperti broken home, perceraian, suami/istri meninggal, anak yang nakal dan lain-lain.
b) Faktor pekerjaan, seperti kesulitan mencari pekerjaan, pengangguran, PHK dan lain-lain.
c) Iklim Lingkungan, seperti maraknya kriminalias, tawuran, motor gang, harga kebutuhan pokok mahal, kemarau panjang, perubahan cuaca dan lain-lain.
Keterkaitan stressor, respon dan dampak stres :
Stressor → Persepsi → Respon Emosi
(rasa marah, rasa cemas, rasa takut, kehilangan semangat, duka cita).
→ Respon Fisik.
 (perubahan biokimia tubuh dan fluktuasi hormonal).
→ Respon Perilaku
AKIBAT STRES
1. Frustrasi; ketegangan jiwa yang tidak menyenangkan disertai kecemasan dan kegiatan simpatetis yang disebabkan oleh hambatan. Misalnya cemas neurotik, seperti takut turun dari pesawat karena takut di Makkah mendapat hukuman atas dosanya. Frustrasi harus direaksi secara positif, seperti mobilisasi, resignasi (tawakal), kompensasi, sublimasi dan lain-lain.
2. Konflik; pertentangan dalam psiche yang disebabkan oleh kompleksitas persoalan yang dihadapi seseorang dan tidak mampu menyelesaikannya, yang ditandai dengan :
Temperamental atau agresive afectivity
Fixatie, sep. tdk bersemangat hidup
Rationalisasi, pembenaran diri sehingga cenderung “ngeyelan”
Proyeksi atau su’udz dzan.
Narsisme, cinta diri yang ekstrem, seperti ria’, kibir, ujub dan lain-lain.
Neurosis, kecemasan tak terkendali.
3. Krisis, keadaan yang mendadak stres karena sesuatu yang merugikan atau menyenangkan secara tiba-tiba
PENGELOLAAN STRES.
Pengelolaan stres sering disebut dengan COPING “proses mengelola tuntutan (internal dan eksternal) yang ditaksir sebagai “Beban” karena diluar kemampuan diri individu (Lazarus dan Folkman) atau upaya untuk mengatasi, mengurangi atau mentoleransi ancaman yang menjadi beban perasaan yang terjadi karena stres (Weiten & Lloyd).
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI COPING :
1. Dukungan sosial, pemberian bantuan terhadap seseorang yg mengalami stres dari orang lain yang memiliki hubungan dekat.
Fungsi dukungan sosial adalah (House, 1981) :
a) Emotional Support (perhatian, kepedulian).
b) Appraisal Support (pengembangan kesadaran).
c) Informational Support (nasehat/diskusi dan pemberitahuan).
d) Instrumental Support (bantuan material).
2. Kepribadian, termasuk di dalamnya adalah :
a) Hardiness (ketabahan, komitmen, internal locus control dan sadar akan tantangan atau chalange).
b) Optimism (kecenderungan mengharapkan hasil yang baik).
Untuk mengukur optimism, Charles Carver (1985) menggunakan LOT (Life Orientations Test) sebagai instrumen dengan alternatif jawaban “True” and “False”.
1. Humoris, toleran dalam menghadapi stress. Carver dkk mengembangkan pengukuran yang dikenal dengan “THE COPE”, yang meng-identifikasi 14 strategi, respon atau kategori coping (dengan jawaban tidak pernah, jarang, sering dan selalu). Contohnya adalah :
Strategi Coping :
1. Coping aktif, seperti “Saya melakukan suatu kegiatan untuk melepaskan diri dari masalah”.
2. Perencanaan, seperti “Saya membuat rencana untuk melakukan suatu kegiatan”.
3. Skala Prioritas, seperti “Saya menunda kegiatan lain agar berkonsentrasi terhadap satu kegiatan”.
4. Menahan diri, seperti “Saya menahan diri dengan cara menunggu waktu yang tepat untuk melakukan suatu kegiatan”.
5. Mencari dukungan instrumental, seperti “Saya bertanya kepada orang lain yang punya pengalaman sama tentang bagaimana cara mengatasi masalah”
6. Mencari dukungan emosional, seperti “Saya membicarakan tentang apa yang saya rasakan kepada orang lain”.
7. Menafsirkan situasi secara positif, seperti “Saya menilai sesuatu secara positif”.
8. Menerima kenyataan, seperti “Saya belajar hidup secara apa adanya”.
9. Kembali ke Agama, seperti “Saya memohon pertolongan kepada Tuhan”.
10. Melepaskan emosi, seperti “Saya mengekspresikan perasaan negatif saya”.
11. Menolak sesuatu yang mungkin terjadi, seperti “Saya tdk mempercayai tantang apa yang terjadi”.
12. Melakukan sesuatu kegiatan, seperti “Saya melakukan suatu kegiatan untuk memperoleh apa yang saya inginkan”.
13. Melepaskan beban mental, seperti “Saya kembali bekerja atau melakukan kegiatan lain agar terlepas dari pikiran yang membebani saya”.
14. Melepaskan tekanan dengan minuman keras atau obat terlarang, seperti “Saya meminum alkohol atau mengkonsumsi obat agar lepas dari beban perasaan yang saya alami”.
Coping terdiri dari :
A. Coping Negatif, terdiri dari :
1) Giving up (melarikan diri dari kenyataan).
2) Indulging your self (memanjakan diri sendiri)
3) Blaming your self (mencela diri sendiri)
4) Defence mechanism (mekanisme pertahanan diri). Bentuknya :
a) Menolak kenyataan.
b) Berfantasi.
c) Rasionalisasi.
d) Over kompensasi.
B. Coping Positif, terdiri dari :
1) Menghadapi masalah secara langsung dalam upaya memecahkan.
2) Menilai situasi berdasarkan pertimbangan rasional.
3) Mengendalikan diri (self control) dalam menghadapi masalah.
METHODE COPING KONSTRUKTIF
A. Rational-Emotive Therapy, pendekatan terapi yang mengfokuskan kepada upaya untuk mengubah pola berfikir klien yang irrasional sehingga dapat mengurangi gangguan emosi atau perilaku yang maladaptif (Albert Ellis)
Menurutnya, reaksi emosional yang bermasalah bersumber dari “self-talk” yang negatif, yang dinamakan “cathastropic thinking” (penilaian terhadap stres secara tidak realistik sehingga memicu meningkatnya masalah).
Penilaian secara tidak realistik itu bersumber dari pikiran atau asumsi yang irrasional, seperti :
1) Saya harus dicintai atau dikasih sayangi oleh semua orang
2) Saya harus tampil sempurna dalam setiap keadaan.
3) Orang lain harus memperlakukan saya dengan baik.
4) Segala sesuatu harus berlangsung sesuai dengan yang saya inginkan.
Karena realitas # keinginan, maka pemikiran ini rentan stres.
B. Meditasi, latihan mental untuk menfokuskan kesadaran atau perhatian dengan cara yang non-analisis (Weiten). Bentuknya : Yoga, Zen dan Transcendental (Hindu, Budha dan Tao), sedangkan Islam berbentuk Dzikir dengan teknik “duduk dalam posisi bersila, penuh konsentrasi membaca do’a atau dzikir” sehingga dapat meningkatkan energi, kesehatan, hubungan interpersonal, kepuasan, kebahagiaan dan mereduksi ketegangan dan/atau kecemasan yang disebabkan oleh stress”.
C. Relaksasi, mengendorkan ketegangan fisik dan psikis guna mereduksi masalah fisiologis (gangguan atau penyakit fisik) dan mengatasi kekalutan emosional.
Tekniknya :
1) Duduk dengan tenang dalam posisi yang nyaman.
2) Tutup mata dengan rilek.
3) Buat rilek semua otot, mulai dari kaki sampai wajah.
4) Bernafas pelan melalui hidung dan keluarkan melalui mulut dengan pelan pula.
5) Lakukan selama 10 sampai 20 menit.
d. Mengamalkan Ajaran Agama
Kualitas keimanan seseorang dapat diukur dari kualitas ibadahnya. Seseorang yang taat beribadah dan memahami makna substansi ibadahnya, ia akan memiliki kepribadian yg positif sehingga akan mampu mengelola hidup dan kehidupannya secara sehat, bermanfaat dan bermakna. Bentuknya,syukur, tawakkal, qona’ah dan sebagainya.
Konsep Pokok Terapi Rasional Emotif :
Bahwa banyak perilaku emosional individu yang berpangkal pada “selftalk” atau “omong diri”, yaitu orang yang menyatakan  kepada dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Hal itu karena :
1) Terlalu bodoh untuk berfikir secara jelas.
2) Cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berfikir secara cerdas  dan jelas dalam hubungannya dengan keadaan emosi.
3) Cerdas dan cukup berpengetahuan ttp terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan secara memadai.
Teknik Terapi :
1. Teknik emotif (afektif) :
1) Teknik Assertive Training, teknik untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus menerus berperilaku tertentu sebagaimana diinginkan.
2) Teknik Sosiodrama, teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan melalui suasana yang didramatisasikan sedemikian rupa sehingga klien bebas mengemukakan dalam bentuk apapun.
3) Teknik Self Modeling, teknik untuk meminta klien berjanji atau mengadakan komitmen utk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
4) Teknik Imitasi, teknik peniruan secara terus menerus untuk menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
2. Teknik Behavioristik
1) Teknik Reinforcement (penguatan), teknik utk mendorong klien kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) atau punishment.
2) Teknik Sosial Modeling, teknik untuk memberikan perilaku baru pada klien.
3) Teknik Live Models, teknik untuk menggambarkan perilaku tertentu, khususnya situasi interpersonal yang komplek dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dalam memecahkan masalah.
3. Teknik Kognitif
1) Home Work Assigments (Pemberian Tugas Rumah), teknik untuk melatih, membiasakan diri dan mengimplementasikan sistem nilai tertentu yang menurut pola perilaku dibutuhkan.
2) Teknik Assertive, teknik untuk melatih keberanian klien dlm mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui role playing atau bermain peran, rehearsal atau latihan dan social modeling atau meniru model sosial.















**materi ini disampaikan oleh dosen mata kuliah kesehatan mental (bu Dewi Khurun Aini) pada kelas psikologi UIN Walisongo Semarang

Teori, Periode dan Gejala Stres


TEORI STRES
Ketegangan-ketegangan yg dirasakan seseorang ketika menghadapi situasi dan kondisi yang kurang/tidak menyenangkan atau mengancam.
Stres dpt memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap individu.
Positif yaitu mendorong individu untuk melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran dan menghasilkan pengalaman baru.
Negatif, yaitu menimbulkan perasaan tidak percaya diri, penolakan, marah, depresi dan lain-lain.
Periode Stres (Ellis)  :
a. Activating event, adanya peristiwa yang dipandang menjadi sumber stres, seperti kegagalan memperoleh prestasi yang baik atau promosi kenaikan pangkat, diberhentikan dari pekerjaan, kemacetan lalulintas.
b. Belief system, adanya keyakinan atau persepsi ttg peristiwa (positif/negatif, rasional/irrasional).
c. Consecuence, dampak (emosi atau perilaku) dari cara berfikir (belief system) apakah positif/negatif.
Jadi yang menyebabkan seseorang mengalami stres atau gangguan emosional (faktor C), bukanlah peristiwa yang dihadapi (faktor A) tetapi penilaian (faktor B) yang tidak rasional atau yang negatif terhadap peristiwa tersebut.
Gejala-Gejala Stres :
1) Gejala fisik, di antaranya sakit kepala, sakit lambung (maag), hipertensi, sakit jantung, insomnia, mudah lelah, keluar keringat dingin, kurang selera makan dan sering buang air kecil.
2) Gejala Psikis, di antaranya gelisah/cemas, kurang dapat berkonsentrasi belajar atau bekerja, bersikap apatis, sikap pesimis, hilang rasa humor, bungkam seribu bahasa,malas belajar/bekerja, sering melamun, sering marah-marah atau bersikap agresif (verbal maupun non verbal).


**materi ini disampaikan oleh dosen mata kuliah kesehatan mental (bu Dewi Khurun Aini) pada kelas psikologi UIN Walisongo Semarang

Kecenderungan Perkembangan Kesehatan Mental Pada Masyarakat Modern


KONSEP DASAR MASYARAKAT MODERN
Masyarakat Modern adalah masyarakat yang memiliki orientasi pada nilai-nilai budaya kekinian yang relatif bebas dengan ciri :
1. Open to new experience (keterbukaan menerima hal yang baru).
2. The realism of growth of opinion (memiliki kemampuan membentuk dan menyatakan pendapat).
3. The readiness for social change (siap menerima perubahan sosial).
4. The need of information (membutuhkan dan selalu mengikuti perkembangan informasi).
5. Oriented to wordl future and punctuality (berorientasi ke depan dan pemanfatan waktu) --- Alex Inkels & David Smith.
Sementara Zakiyah Daradjat memberikan ciri masyarakat modern adalah :
1. Meningkatnya kebutuhan hidup manusia.
2. Munculnya individualisme dan egoisme.
3. Persaingan hidup yang ketat.
4. Keadaan yang tidak stabil
PROBLEM MASYARAKAT MODERN
1. Degradasi moral. Ethos kerja tinggi, → sistem kerja tak mengenal batas dan kepuasan → lepas dari hegemoni agama, -- hasil kerja tanpa disikapi dengan rasa syukur, kegagalan kerja disikapi dengan putus asa. Atau Iman  menjadi dangkal, orientasi hidup materialistik dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
2. Kehampaan Spiritual. Dominasi rasional → sekularisme → kebutuhan rohani terabaikan → hidup gelisah dan resah.
3. Hilangnya makna dan nilai hidup. Karena tekanan berlebihan dalam kehidupan material – kesadaran akan makna hidup menjadi hilang. Sukses = identik sukses kehidupan material, meski spiritualnya gersang. Manusia yang sudah kehilangan makna dan pegangan hidup cenderung melampiaskan kekecewaannya dalam :
1. Agresifeness, suka menyerang secara kasar dan tidak wajar.
2. Rasionalisasi, pembenaran diri dan menyalahkan orang lain
3. Narsism, cinta diri yang ekstrem, merasa superior dan penting
4. Aautism, menutup diri dan tidak mau berhubungan dengan dunia luar.
4. Teralinasi/Terasing karena :
1. Perubahan sosial yang terlalu cepat.
2. Hubungan manusianyang gersang.
3. Masyarakat yang berubah dari homogen menjadi heterogen
5. Neurosis, kecemasan yang tidak logis karena ketidak seimbangan antara kemampuannya dengan perkembangan lingkungannya, tekanan sosial dan kultural yang kuat dan berat, yang tidak mampu dihadapinya.
6. Psikosis, gangguan mental yang parah, ditandai oleh disintegrasi kepribadian karena ketidak mampuan fungsi intelektualnya.
KEHIDUPAN MODERN YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MENTAL :
1. Cultural Lag, ketertinggalan budaya satu dengan lainnya, seperti ketertinggalan budaya akademik dengan budaya material → susutnya disiplin nilai, berkembangnya chaos sosial, disorganisasi sosial.
2. Proses sekularisasi yang mengandung konotasi liberalisasi yang pada gilirannya memunculkan sistem politik, ekonomi dan filsafat liberal → konflik sosial, perkelaian, rasa takut, cemas, tidak aman, panik, teror dan fitnah dan sebagainya.
3. Disorganisasi sosial dan personal, berkurangnya tata nilai dan aturan tingkah laku sosial pada anggota kelompok/masyarakat → individu atau kelompok sosial menjadi buas, tanpa kendali, tanpa pola susila, semau gue dan sebagainya
4. Kehidupan Rural-Urban → meningkatnya CBR-CDR, dinamika penduduk yang cepat, densitas penduduk, pengangguran yang tinggi, kesenjangan pendapatan dan sebagainya. 
TERAPI
Problem-problem kehidupan akibat modernisasi  → ALTERNATIF
1. Freedom Of Life
Psikopat (berperilaku menyimpang)

2. Religious Consiousness
Seseorang yang taat beribadah dan memahami makna substansi ibadahnya, ia akan memiliki kepribadian yang positif sehingga akan mampu mengelola hidup dan kehidupannya secara sehat, bermanfaat dan bermakna. Bentuknya,syukur, tawakkal, qona’ah dan sebagainya.
TERAPINYA  ?
1. Meditasi, latihan mental untuk menfokuskan kesadaran atau perhatian dengan cara yang non-analisis (Weiten). Bentuknya : Yoga, Zen dan Transcendental (Hindu, Budha dan Tao), sedangkan Islam berbentuk Dzikir dengan teknik “duduk dalam posisi bersila, penuh konsentrasi membaca do’a atau dzikir” sehingga dapat meningkatkan energi, kesehatan, hubungan  interpersonal, kepuasan, kebahagiaan dan mereduksi ketegangan dan/atau kecemasan yang disebabkan oleh stress”.
2. Relaksasi, mengendorkan ketegangan fisik dan psikis guna mereduksi masalah fisiologis (gangguan atau penyakit fisik) dan mengatasi kekalutan emosional.
3. Mengamalkan Ajaran Agama
Kualitas keimanan seseorang dapat diukur dari kualitas ibadahnya. Seseorang yang taat beribadah dan memahami makna substansi ibadahnya, ia akan memiliki kepribadian yang positif sehingga akan mampu mengelola hidup dan kehidupannya secara sehat, bermanfaat dan bermakna. Bentuknya, syukur, tawakkal, qona’ah dan sebagainya.











**materi ini disampaikan oleh dosen mata kuliah kesehatan mental (bu Dewi Khurun Aini) pada kelas psikologi UIN Walisongo Semarang

Penyesuaian Diri dan Kesehatan Mental


Penyesuaian diri dapat diartikan sebagai suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan mengatasi ketegangan, frustrasi dan konflik dengan memperhatikan norma-norma atau tuntutan lingkungan dimana individu itu hidup (Schneiders).
Penyesuaian diri terdiri dari :
1. Penyesuaian Yang Normal, memiliki karakteristik :
a. Absence of exessive emotionality.
b. Absence of psychological mechanisme (rationalisasi, agresi, kompensasi dan sebagainya).
c. Absence of the sence of personal frustration.
d. Rational deliberation and self-direction.
e. Ability to learn
a. Utilization of past experience.
b. Realistic, objective attitude
2. Penyesuaian Yang Menyimpang.
Proses pemenuhan kebutuhan atau upaya pemecahan masalah dengan cara-cara yang tidak wajar atau bertentangan dengan norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, ditandai dengan respon-respon sebagai berikut  :
a. Defence Reaction (reaksi bertahan), respon yang tidak disadari, yang berkembang dalam struktur kepribadian individu dan menjadi menetap, sebab dapat mereduksi ketegangan dan frustrasi dan dapat memuaskan tuntutan-tuntutan penyesuaian diri.
Mekanisme pertahanan diri itu berbentuk :
1) Kompensasi, menutupi kelemahan dalam satu hal dengan cara mencari kepuasan dalam bidang lain.
2) Sublimasi, mengganti kelemahan atau kegagalan dengan kegiatan yang mendapatkan pengakuan masyarakat.
3) Proyeksi, melemparkan sebab kegagalan dirinya kepada pihak lain. 
Faktor yang melatar belakangi mekanisme pertahanan :
1) Inferiority, perasaan atau sikap rendah diri dengan gejala :
a) Peka terhadap kritikan orang lain.
b) Sangat senang terhadap pujian atau penghargaan
c) Kurang senang untuk berkompetensi
d) Senang menyendiri, pemalu dan penakut
Inferiority dipengaruhi oleh :
a) Kondisi fisik seperti kerdil, cacat, sakit-sakitan dan sebagainya.
b) Psikologis seperti  IQ idiot, embisil, debil.
c) Kondisi lingkungan yang tidak kondusif seperti keluarga tidak harmonis, kemiskinan, perilaku keras dari orang tua.
1) Sense of Inadequacy (perasaan tidak mampu)
2) Sense of Failure (perasaan gagal)
3) Sense of Guilt (perasaan bersalah).
b. Agresive Reaction dan Delinquency.
Agresive reaction adalah bentuk respon untuk mereduksi ketegangan dan frustrasi melalui media tingkah laku yang merusak, menguasai atau mendominasi.
Deliquency adalah tingkah laku individu atau kelompok yang melanggar norma moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, yang menyebabkan terjadinya konflik antara individu dengan kelompok atau masyarakat.
Karakter perilaku atau sikap agresif (M. Surya) :
Selalu membenarkan diri sendiri.
Mau berkuasa dalam setiap situasi.
Mau memiliki segalanya.
Bersikap senang mengganggu orang lain.
Menggertak dengan ucapan atau perbuatan.
Menunjukkan sikap bermusuhan secara terbuka.
Menunjukkan sikap menyerang dan merusak.
Keras kepala.
Bersikap balas dendam.
Memperkosa hak orang lain.
Bertindak serampangan (impulsif)
c. Flight from Reality Reaction,
Refleksi perasaan jenuh, putus asa dan kecemasan dalam menghadapi kenyataan. Bentuknya :
1) Banyak berfantasi/melamun.
2) Banyak tidur atau tidur patologis.
3) Minum-minuman keras.
4) Intensi bunuh diri.
5) Menjadi pecandu psikotropika
6) Regresi
d. Flight into Illness/Pathologis, penyesuaian yang pathologis : Neurosis atau the struggle with anxiety, kondisi emosi yang salah-suai dalam mana gejala-gejala yang muncul disebabkan oleh tekanan dari luar.









**materi ini disampaikan oleh dosen mata kuliah kesehatan mental (bu Dewi Khurun Aini) pada kelas psikologi UIN Walisongo Semarang

Karakteristik Mental Sehat


1. Mental yang sakit (Schneiders) dicirikan : 
a. Kecemasan/kegelisahan dalam menghadapi kehidupan (anxiety)
b. Perasaan mudah tersinggung 
c. Sikap agresif (pemarah) dan distruktif (merusak)
d. Kurang mampu menghadapi realitas sehingga mudah frustrasi 
e. Memiliki gejala psikosomatis 
f. Tidak beriman kepada Tuhan.
Thorpe berpendapat, ciri-ciri mental sakit adalah :
a. Merasa tidak nyaman atau tidak bahagia 
b. Merasa tidak aman atau khawatir 
c. Kurang percaya diri 
d. Kurang memahami diri 
e. Kurang mendapatkan kebahagiaan dalam berhubungan sosial 
f. Kurang memiliki kematangan emosional 
g. Kepribadiannya kurang mantap
h. Mengalami gangguan dalam sistem syarafnya.
Mental yang tidak sehat dicirikan :
1) Perasaan tidak nyaman (inadequacy)
2) Perasaan tidak aman (insecurity)
3) Kurang memiliki rasa percaya diri
4) Kurang memahami diri (self inunderstand)
5) Kurang mendapat kepuasan dalam hubungan sosial 
6) Ketidak matangan emosi 
7) Kepribadian terganggu
8) Mengalami patologi dalam struktur sistim saraf 
Neurotic Behavior, ciri-cirinya:
Kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru (tuntutan realitas) atau tidak adabtable.
Lebih cenderung mengekspresikan perilaku yang tidak disadari .
Masih memiliki orientasi yang cukup terhadap ruang, waktu, tempat dan orang lain tetapi tidak memiliki insight atau kesadaran terhadap perilakunya dan tidak bisa merubahnya.
Sebagian besar ucapannya adalah tentang mimpi-mimpi yang sangat berarti.   
Psychotic Behavior, ciri-cirinya :
Tingkah laku yang mengacau atau mengganggu orang lain.
Pikiran dan perkataan yang meloncat-loncat.
Disorganisasi ruang, waktu dan tempat akibat tidak bisa membedakan antara mimpi dan realita, tidak mempunyai kesadaran dalam perilakunya.
Orang psychotic tidak bisa sembuh secara total, tetapi bisa sembuh secara sosial.
Karakteristik Mental Yang Sehat :
1) Terhindar dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurosis) dan penyakit jiwa (psikosis).
a) Neurosis adalah gangguan pada sebagian kepribadian dengan ciri tegang dan cemas, fobia atau rasa takut yang tidak masuk akal, obsesif atau lengketnya ide yang sulit dilupakan, kompulsif atau kecenderungan perilaku yang tidak bisa dicegah, reaksi-reaksi emosional dan sebagainya.
b) Psikosis adalah suatu kesalahan penyesuaian diri secara emosional karena tidak bisa diselesaikannya suatu konflik tak sadar. Penyebabnya adalah psikogenik.
2) Dapat menyesuaikan diri dengan  lingkungan.
3) Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin 
4) Tercapai kebahagiaan pribadi & dengan orang lain.
PSIKONEUROSIS
“Gangguan yang terjadi pada sebagian kepribadian sehingga orang masih bisa bekerja secara biasa dan jarang memerlukan perawatan medis” (Soekanto). Ciri-cirinya :
1) Tegang dan cemas.
2) Lesu mental seakan kurang tenaga.
3) Rasa takut (fobi) yang tidak logis (seperti pada tempat tinggi, keramaian, kesempitan, kematian dan sebagainya).
4) Obsesif, lengketnya ide yang sulit dilupakan.
5) Kompulsif, kecenderungan melakukan sesuatu tanpa bisa dicegah. Salah satu jenis kompulsi adalah “kleptomani”, kecenderungan mencuri yang sulit dicegah oleh penderita.
6) Gelisah, murung, nafsu makan menurun dan susah tidur.
7) Reaksi emosional tidak terkendali, seperti kejang-kejang untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang kurang menyenangkan. 
Yang termasuk Psikoneurosa adalah :
1) Hesteria, suatu neurosa yang kompleks dalam beberapa bentuk penampilannya dengan ciri-ciri ketidak stabilan emosional, represi , dissosiasi dan sugestibilitas. Sebab-sebabnya :
a) Predisposisi pembawaan berupa sistem syaraf yang lemah.
b) Tekanan mental (stress).
c) Disiplin dan kebiasaan hidup yang salah.
d) Defence mechanism yang negatif/keliru.
e) Kondisi fisik yang tidak menguntungkan.
f) Sugesti diri untuk melarikan dari kesulitan 
2) Psychastenia, tipe psikoneurosa yang ditandai dengan reaksi-reaksi kecemasan, dibarengi kompulsi obsesi dan ketegangan fobia. Simptom-simptomnya :
a) Phobia, ketakutan yang tidak normal dan tidak riil.
b) Obsesif, merasa dikejar-kejar, tidak tenang, penuh ketegangan, selalu terganggu.
c) Kompulsi, tingkah laku paksaan untuk berbuat sesuatu yang tidak bisa ditahan.
d) Perasaan bersalah, berdosa, tidak aman dan tidak mampu.
3) Tics, gerak muka/wajah yang seperti dipaksakan atau kejangan otot yang kadang-kadang disertai bunyian.
4) Neurasthenia, bentuk psikoneurosa yang ditandai oleh kondisi syaraf-syaraf yang lemah, tidak memiliki energi hidup disertai rasa capai, lelah yang hebat dan terus menerus, macam-macam rasa sakit dan nyeri sehingga penderita malas berbuat. Sebabnya :
a) Risau yang disebabkan kekurangan kesibukan.
b) Banyak ketegangan emosi karena konflik-konflik, kesusahan dan sebagainya.
c) Perasaan inferior akibat kegagalan-kegagalan.
5) Hypochondria, kecemasan yang kronis dan berlebih-lebihan sehingga merasakan ketakutan yang menjurus pada patologis.
6) Anxiety Neurosis, neurosa dengan simptom utama kecemasan yang kronis dan mendalam. Sebabnya :
a) Kecemasan yang terus menerus disebabkan oleh kesusahan dan kegagalan yang bertubi-tubi.
b) Dorongan seksual yang tidak mendapatkan kepuasan dan terhambat sehingga menimbulkan konflik batin.
c) Kecenderungan kesadaran diri yang terhalang.
d) Repressi terhadap berbagai masalah emosional yang tidak bisa berlangsung sempurna.
7) Psikosomatisme, macam-macam penyakit fisik yang disebabkan oleh konflik-konflik psikis dan kecemasan yang kronis.
PSIKOSIS
“Suatu kesalahan penyesuaian diri secara emosional karena tidak bisa diselesaikannya suatu konflik tak sadar” atau menyerupai gila disebabkan psikogenik oleh bakat atau keturunan atau oleh perkembangan atau pengalaman yang terjadi dalam sejarah kehidupan seseorang. Ciri-cirinya :
1) Schizophrenia, kepribadian yang terbelah. Kontak dengan realitas tidak ada lagi, lebih banyak hidup dalam dunia hayalnya.
2) Logikanya tidak berfungsi, pembicaraannya meloncat-loncat disertai kata-kata yang aneh, yang hanya dimengerti oleh penderitanya sendiri (neo-logisme).
3) Ucapan, fikiran dan perbuatannya tidak sejalan, bisa bercerita sesuatu yang menyedihkan sambil tertawa.
4) Halusinasi, kesalahan persepsi dalam mendengar, melihat atau merasa sesuatu yang sebenarnya tidak ada atau yang sebenarnya lain sifatnya (seperti suara pedang dan lain-lain).
Kriteria Fungsi Psikologis Yang Sehat 
Menerima diri secara penuh (mencintai & menghargai diri), but not self-obsessed
Memahami diri sendiri 
Percaya diri, kontrol diri, sehingga menjadi mandiri, asertif, self efficacy
Persepsi yang jernih terhadap realitas 
Keberanian & ketahanan mental
Keseimbangan & fleksibilitas 
Menyukai orang lain
Menghargai kehidupan 
Memiliki tujuan hidup 
Menurut WHO, karakter mental yang sehat adalah 
1) Mampu belajar dari pengalaman 
2) Mudah beradaptasi
3) Lebih senang memberi daripada menerima 
4) Lebih senang menolong daripada ditolong
5) Mempunyai rasa kasih sayang 
6) Memperoleh kesenangan dari hasil usahanya 
7) Menerima kekecewaan untuk dipakai sebagai pengalaman 
8) Berfikir positif 
Menurut Sikun Pribadi, karakter mental yg sehat :
1) Perasaan aman, bebas dari rasa cemas.
2) Rasa harga diri yang mantap.
3) Spontanitas dan kehidupan emosi yang hangat dan terbuka. 
4) Mempunyai keinginan-keinginan yang sifatnya duniawi, jasmani yang wajar dan mampu memuaskannya. 
5) Dapat belajar mengalah dan merendahkan diri sederajat dengan orang lain.
6) Tahu diri atau mampu menilai kekuatan dan kelemahan dirinya secara tepat dan obyektif.
7) Mampu melihat realitas sebagai kenyataan dan melakukannya sebagai realitas pula.
8) Toleransi terhadap ketegangan atau strees, atau tidak panik pada saat menghadapi masalah 
9) Integrasi dan kemantapan dalam kepribadian 
Normal Behavior, ciri-cirinya :
Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Mampu merubah perilakunya melalui proses belajar.
Mampu melihat suatu perilaku dengan sebab & akibatnya.
Mampu membedakan antara impian dengan kenyataan.
Mempunyai orientasi waktu, tempat dan ruang serta mengerti tentang situasi dan lingkungan yang dihadapi.










**materi ini disampaikan oleh dosen mata kuliah kesehatan mental (bu Dewi Khurun Aini) pada kelas psikologi UIN Walisongo Semarang

Prinsip-Prinsip dan Fungsi Kesehatan Mental


1. Prinsip-Prinsip Kesehatan Mental
Schneiders (1964) mengkategorikan sebagai berikut. :
a. Pada Manusia Secara Individu :
1) Kesehatan mental tergantung kondisi jasmani dan integritas organisme.
2) Untuk memelihara kesehatan mental, perilaku harus sesuai dengan hakekat kemanusiaannya yang memiliki moral, intelektual, agama, emosional dan sosial (MQ, IQ, SQ, EQ dan Sos Q). Atau IQ, EQ dan SQ yang integratif (Danah Zohar dan Ian Marshall)
3) Kesehatan mental dapat dicapai melalui integrasi dan kontrol diri/self control (cara pikir, hayal, berkeinginan, ekspresi perasaan dan bertingkahlaku)
4) Dalam memelihara kesehatan mental perlu memperluas pemahaman diri atau pengetahuan tentang diri sendiri (self insight).
5) Kesehatan mental memerlukan self acceptance dan self-concept scr sehat  (penerimaan diri dan penghargaan diri secara wajar)
6) Untuk mencapai kesehatan mental, maka pemahaman diri (self insight) dan penerimaan diri (self acceptance) perlu disertai dengan upaya perbaikan diri (self improvement) dan perwujudan diri (self realization).
7) Kestabilan mental dapat dicapai dengan pengembangan moral yang luhur dalam diri sendiri.
8) Pencapaian dan pemeliharaan kesehatan mental bergantung pada penanaman dan pengembangan kebiasaan yang baik (good habits)
9) Kestabilan mental menuntut adanya adaptibilitas, kemampuan melakukan perubahan sesuai dengan keadaan dan kepribadian.
10) Kesehatan mental memerlukan usaha mencapai kematangan berfikir, mengambil keputusan, mengekspresikan emosi dan tindakan.
11) Kesehatan mental dapat dicapai dengan  belajar mengatasi konflik, frustrasi dan ketegangan secara efektif
b. Hubungan Manusia dg Lingkungan
1) Kesehatan mental tergantung pada hubungan antar pribadi yang harmonis, terutama dlm kehidupan keluarga
2) Ketenangan batin tergantung pada  kepuasan dalam bekerja.
3) Kes. mental dpt dicapai dengan sikap yg realistik, termasuk terhadap kenyataan secara sehat dan obyektif.
c. Hubungan Manusia dengan Tuhan
1) Kestabilan mental tercapai dengan perkembangan kesadaran terhadap  sesuatu  yang lebih luhur daripada  dirinya sendiri, yaitu Tuhan.
2) Kesehatan mental dan ketenangan batin dicapai dengan kegiatan yang tetap dan teratur dalam hubungannya dengan Tuhan.
2. FUNGSI KESEHATAN MENTAL
1. Fungsi Preservasi (pemeliharaan), memelihara dan mengembangkan mental yang sehat dan mencegah terjadinya mental illness.
2. Fungsi Prevensi (pencegahan), mencegah terjadinya gangguan mental dan penyesuaian diri yang tidak kondusif.
3. Fungsi Development (pengembangan), mengembangkan mental yang sehat atau kepribadian yang sehat sehingga mampu menghindari kesulitan-kesulitan psikologis yang mungkin dialami.
4. Fungsi  Amelioratif (perbaikan), memperbaiki kepribadian dan meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri sehingga gejala-gejala tingkah laku dan mekanisme pertahanan diri  dapat dikendaliakan.







**materi ini disampaikan oleh dosen mata kuliah kesehatan mental (bu Dewi Khurun Aini) pada kelas psikologi UIN Walisongo Semarang