Selasa, 17 April 2018

Ruang Lingkup Kesehatan Mental dan Faktor Yang Menyebabkan Kesehatan Mental

sumber: istimewa



Tujuan mempelajari kesehatan mental adalah memahami kesehatan mental dengan segenap faktor yang mempengaruhi dan usaha-usaha yang dapat meningkatkannya, sekaligus bermaksud meningkatkan kesehatan mental masyarakat.

Sasaran dalam mempelajari kesehatan mental adalah masyarakat, baik yang sehat, yang berada dalam risiko, yang sakit, atau yang telah memperoleh perawatan dan disosialisasikan ke masyarakat. Ruang lingkup kesehatan mental mencakup: promosi kesehatan mental (usaha-usaha peningkatan kesehatan mental), prevensi primer (usaha kesehatan mental untuk mencegah timbulnya gangguan dan sakit mental), prevensi sekunder (usaha kesehatan mental menemukan kasus dini / early vase ditection dan penyembuhan secara tepat / prompt treatment terhadap gangguan dan sakit mental), prevensi tersier (usaha rehsbilitasi awal yang dapat dilakukan terhadap orang yang mengalami gangguan dan kesehatan mental).

Ruang lingkup kesehatan mental tersebut saat ini telah dipelajari dan diterapkan secara lebih luas pada bidang-bidang ilmu yang relevan, misalnya pada psikologi komunitas (lebih menekankan pada promosi potensi psikologis masyarakat serta upaya-upaya pencegahan terhadap munculnya perilaku yang tidak tepat termasuk bidang kesehatan mental, dan basis keilmuan yang digunakan adalah psikologi) maupun psikiatri komunitas (lebih menekankan pada pada promosi kesehatan mental dan upaya pencegahan terhadap timbulnya gangguan-gangguan psikiatris dengan basis keilmuan yang digunakan adalah psikiatri).[1]



[1] Moeljono Notosoedirdjo dan Latipun, Kesehatan Mental, (Malang: Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang, 2017), hlm. 19-20.

Konsep Dasar Sehat dan Sakit

sumber: Istimewa



Sehat dan sakit merupakan gejala universal, terjadi sepanjang sejarah manusia dan dikenal di semua kebudayaan. Hanya saja untuk merumuskan secara eksak tidak mungkin dicapai.

Sehat mengandung pengertian keadaan yang sempurna secara biopsikososial, lebih dari sekadar terbebas dari penyakit atau kecacatan. Sakit juga mengandung makna biopsikososial, yang meliputi konsep disease (berdimensi biologis), illness (berdimensi psikologis) dan sickness (berdimensi sosiologis). Faktor subjektif dan kultural turut menentukan konsep sehat dan sakit.

Kesehatan pada prinsipnya berada pada rentangan yang kontinum, yaitu di antara titik yang benar-benar sakit dan titik benar-benar sehat. Kesehatan seseorang atau masyarakat ini dapat diupayakan ditingkatkan statusnya, dari yang kurang sehat menjadi lebih sehat, atau sebaliknya.

Kesehatan, selain ada secara fisik juga ada secara psikologis. Kesehatan secara fisiologis berhubungan dengan kesehatan mental, dan keduanya tidak saling menentukan. Jika terjadi gangguan fisik akan mempengaruhi keadaan kesehatan mentalnya. Demikian juga jika terjadi gangguan mental maka akan mempengaruhi kesehatan fisiknya.

Sehat berbeda pengertiannnya dengan normal. Kedua istilah ini sering dimaknakan sama, tetapi sebenarnya memiliki pengertian yang berbeda. Hal serupa juga berlaku untuk konsep gangguan dan deviasi. Gangguan lebih mengacu pada aspek medis, sedangkan deviasi lebih pada aspek social.[1]



[1] Moeldjono Notosoedirdjo dan Latipun, Kesehatan Mental, (Malang: Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang, 2017), hlm. 11.