Dua minggu lalu aku hadir di
sebuah acara yang sudah tak asing bagiku (mu'awanah gabungan namanya) walaupun
kali ini sedikit berbeda. Itu karena aku sudah berpisah. Tempatku sudah
berbeda. Aku tak lagi bersamanya. Semuanya harus bisa dikerjakan dan dilakukan
sendiri. Sejak pagi buta aku harus segera bangun seperti biasa menunaikan
kewajibanku sebagai hamba-Nya, lalu kewajibanku sebagai santri.
Hari itu, kebetulan hari minggu.
Hari dimana jadwalnya bersih-bersih. Kamar mandi sibuk digosok, tangga dan aula
sibuk disapu pun dipel, kamar ma’had tak luput ditata rapi. Kesibukan itu
diiringi dengan lagu berbahasa arab. Ya, nuansanya ketimuran. Serasa berada
dibagian bumi belahan mana saja, padahal aku masih disini, di Indonesia.
Seminggu ini berbeda dengan minggu
kemarin yang jadwalnya berbahasa inggris. Mungkin karena bahasa inggris sudah
tak lagi asing di telingaku, nuansa ketimuran disini ku anggap sangat kuat.
Belum lagi ditambah dengan setiap pengumuman yang disiarkan baik oleh musyrifah
(supervisor) ataupun general advisor yang sering memakai bahasa arab. Ah,
lengkap sudah rasanya, ketidakmengertianku.
Oh ya dilanjut dengan cat warna
hijau ma’had, kitab-kitab klasik yang dipelajari, dan para santri yang sering
menggunakan bahasa arab di setiap percakapan. Ya, kebanyakan mereka lulusan MAN
ataupun pondok, sedangkan aku? Hehehe aku seringkali menjawab pertanyaan mereka
menggunakan bahasa inggris. Kadang aku mengerti apa maksud mereka tapi tak bisa
menjawabnya dengan menggunakan bahasa yang sama, kadang aku juga tak mengerti
apa yang mereka bicarakan. Sudah kucoba memakai bahasa arab walau kadang habis
di kata. Aku masih perlu banyak belajar. Beruntung ada teman sekamarku lulusan
Gontor yang suka membantuku membuat khitobah. Aku seringkali kesusahan membuat
khitobah, dan temanku itu suka membantuku.
Pernah juga aku sudah
mempersiapkan 3 judul khitobah untuk diajukan, tapi ditolak oleh musyrifah,
alasannya simple, katanya terlalu umum dan sepertinya sudah pernah disampaikan
waktu OPAK. Yasudah kucari lagi. Setelah diterima judul dan konsepnya, segera
ditranslate baruuu dikoreksi musyrifah dan bisa dihafal. Panjang ya prosesnya
wkw. Oh iya, pengalaman pertama saja aku mengulang untuk khitobahku, kebetulan
waktu itu aku sakit jadi untuk menghafal rasanyaaaa hmm susah memusatkan
pikiran (fokus). Tapi yasudahlah tak apa. Aku tidak minta untuk dimengerti
hihi.
Jantungku sering berdebar tak
karuan ba’da shalat subuh kau tahu kenapa? Di minggu bahasa arab, kalau santri
yang tak mendapat jadwal khitobah selain mendengarkan, kami harus bersiap untuk
mengambil konklusinya. Ya tentunya memakai bahasa arab. Disitu aku membawa
catatan kecilku, aku mencatat apa yang disampaikan walaupun rompang dan tak
lengkap karena penyampaiannya yang terlalu cepat. Aku pun tak mengerti kadang
dengan yang kucatat, tapi kalau sudah ditunjuk, ya maju sajalah sampaikan apa
adanya.
Sudah hampir empat bulan aku jadi
bilingual student di ma’had UIN Walisongo. Rutinitasnya rasanya begitu padat.
Ya, selain jadi mahasiswa kan jadi santri, belum lagi dengan ikut kegiatan
ukm-ukm. Sungguh suatu hal yang baru. Tiap hari selalu ada khitobah ataupun
speech, lalu disusul dengan muhadatsah ataupun conversation, disambung dengan
masuk kuliah, maghribnya kadang dibaan, nderes quran seperti biasa, setor surah
yang dihafal dan malam mahkamah (yang suka bikin dag dig dug dipanggil ngga ya
hayo nglanggar aturan ngga? Wkwk). Ba’da
shalat isya ngaos kitab ta’lim
muta’alim, tafsir jalalain, yaqutunnafis, mau’idhotul mukminin.
Pokoknyaaa kalau ngaos kitab ba'da
isya rampung, ya waktu yang tepat untuk mengerjakan tugas dosen, meresume,
membuat makalah, ppt, dan tetek bengeknya. Semangatqaqa ! begadang? Seriing,
sudah biasaaaa, tenaaaang. . .
Ah lupa sampai mana tadi? Oh ya maaf
banyak ngelantur haha. Jadi gini ceritanya, saat acara baru saja dimulai
walaupun dia tak kunjung datang aku tetap
duduk menunggunya, tiba-tiba aku dijawil “mbak, mbak fatih suruh bantu ngurus
anak-anak”. Aku lumayan kaget dijawil
dari belakang, dengan spontan kujawab “aku?, aku mbak?” sambil biasa seperti
orang tak menyangka tanganku menunjuk ke diriku sendiri. Ia yang tak kutahu
namanya itupun mengangguk.
Aku bediri dan langsung ke ruangan
anak-anak. Disitu aku ikuti acara anak-anak dari mulai pembukaan, penyampaian
materi siratun nabi, kemudian tiba waktunya aku membimbing anak-anak menulis
surat untuk ibu dan mewarnai gambar yang telah disediakan. Padahal kau tahu?
Itu juga kesempatan aku bertemu dengannya, melepas rindu. Tapi ya kujalani
saja. Toh, these too will be past. Menyenangkan walaupun awalnya bingung. Anak-anak
yang hadir banyak, mulai dari yang paud sampai smp.
Dalam benak banyak sekali
pertanyaan, aku awalnya bingung, anak-anak-anak kan banyak, dari berbagai umur,
ini mana yang sudah bisa menulis mana yang belum? Hadeeehhh. Akhirnya ku ucap
bismillah dalam hati, dengan menarik dan menghela nafas ku ambil langkah seraya
berkata “Adek-adek yang sudah bisa menulis ayo angkat tangan ya?” lalu setelah
terlihat mana yang angkat tangan dan yang tidak, aku berkata lagi “Ayo yang
sudah bisa menulis di samping kanan mbak ya, yang belum di sebelah sini, di
kiri dan duduk melingkar ya” ku ambil kertas yang sudah ada gambarnya dan
krayon serta hvs kosong. Lalu kubagikan kepada setiap anak. Bagi anak-anak yang
sudah bisa menulis, mereka tidak hanya menulis surat tapi juga mewarnai gambar.
Dan bagi yang belum bisa, mereka hanya mewarnai gambar saja.
Anak-anak terlihat asyik dengan
mewarnai gambar, gambar seorang ibu yang memeluk anaknya, gambar bunga-bunga,
dan lainnya. Dan untuk yang sudah bisa menulis surat, ku arahkan “adek-adek ayo
tulis judul surat untuk ibu tersayang di bagian atas, seperti ini”, sambil ku
tunjukkan punyaku. “Lalu deskripsikan ibu, bunda, mamah, atau ummi kalian, apa
yang mau kalian sampaikan, sampaikan ya contohnya mau bilang aku sayang ibu,
atau terimakasih atau juga maaf pada ibu ya. Tapi disitu kalian harus menulis
alasannya Oke? Mbak nya ngga lihat alasannya kok nanti kalian malu hehehe”,
ucapku sambil menutup mataku dengan kedua tangan.
“Ayo yang bandel ngaku ! tulis
kesalahan kalian, eh aku juga ding hihi. Oh iya kalian juga bisa tulis setelah
kalian besar nanti apa yang kalian mau lakukan, berikan atau apapun itu pada
ibu ya.” Anak-anakpun mengangguk. Aku kesana kemari mengecek tulisan mereka
hihi ku intip ada beberapa yang salah tulis jadi ku benarkan, ada juga yang
masih bingung jadi ku arahkan kata-katanya agar dapat dipahami serta ku bantu
juga mewarnai gambar milik anak-anak. Tak terasa waktu sudah menunjukkan untuk
shalat dhuhur, sedari pagi aku belum bertemu dengannya. Tapi kan aku terikat,
masih harus menyelesaikan tugasku. . . batinku, gelisah hmm. “Adek-adek yang
sudah ayo dikumpulkan dan jangan lupa tulis nama kalian di atas ya”, kataku.
Tiba-tiba seorang wanita yang memakai
mukena datang menghampiriku “Oh kakak dari tadi tak cari tak tanya orang kesana
kemari ternyata disini ya”, ucapnya sambil menahan air matanya. Mataku
terbelalak, aku berdiri dan lebih mendekat mendekat lagi, yang kunanti iya
iaaaa, dia. Aku kaget, bahagia. Lalu aku bersalaman dengannya sambil masih tak
menyangka ini dia, iya ia disini. Ia memelukku dan kudekap pula ia, kupanggil
ia ummiiiiii aaaaaaaaaaa ({}). Aku tak tahu jatuhkah air matanya atau tidak. Yang
kutahu akhirnya penantianku rasa rinduku terobati juga.
Belum puas melepas rinduku, aku
teringat tugasku, anak-anak ah iyaa, “bentar ya ummii”, kataku pelan.
“Adek-adek sudah belum mewarnai dan menulis suratnya? Ayo sini yang sudah yaa”.
Aku sibuk mengumpulkan surat mereka dan kertas gambar yang mereka warnai. Aku
cek satu-satu sudahkah mereka tulis nama mereka. Lalu kutengok tempat tadi
dimana aku dipeluknya, dimana ia? Mungkin sudah siap-siap untuk shalat, batinku.
“Yasudah yang sudah ambil air wudhu yaa kalian shalat setelah itu makan siang”,
tegasku sambil merapikan krayon yang berantakan di sana sini. Aku bergegas
mengambil air wudhu untuk shalat. Kemudian saat akan mengambil makan siang aku
bertemu dengannya lagi, alhamdulillah J, “ummiiii,
maem”, kataku manja. Ia malah mau mengambilkan makan dan minumku hihi ya
begitulah perhatiannya ia, kalau aku ngelunjak ya minta disuapi hehehe.
Acara dilanjutkan lagi, kuputuskan
aku ikut acara di ruangan ibu-ibu. Kesempatan. . . melepas rindu. Eh eh aku
malah didorong-dorong bulek-bulekku ikut
lomba hafalan bacaan shalat dengan artinya mewakili cabangku. Padahal tak ada
persiapan apa-apa. Yasudah maju sajalah.
Acara demi acara berlalu, waktu
terasa cepat sekali berjalan. Ternyata sudah sore. Di penutupan acara kami
berdoa dan pengumuman juara baik lomba menulis surat untuk ibu, lomba mewarnai,
hafalan shalat dengan artinya dan lomba memasak percabang. Alhamdulillah cabang
kami mendapat juara lomba memasak dan hafalannya.
Waktunya berpisah lagi, kami
bersalaman dan pelukan seperti telethubbies wkw bukaaan bukan hehe *sok ngayal.
Perpisahan yang tak diinginkan. Cie cie galau. Yasudah sudah. Jangan mewek. Hmm
diperjalanan pulang lagi ke ma’had aku merenung, bersyukur pastinya sudah
dipertemukan walaupun hanya beberapa jam. Walaupun masih tidak puas, ya begitulah
manusia, aku. . . oh aku manusia ya xD. Yang jelas, sampai sekarang bahkan aku
tidak menulis surat untukmu. Jahat ya. Tapi kau harus tahu bahwa aku selalu sangat
mencintaimu, menyayangimu, bangga memilikimu, merindukanmu dan sangat ingin
membahagiakanmu.
Terimakasih sudah mendoakanku, mengandungku,
melahirkanku, merawatku, mendidikku, menyemangatiku, mensupportku, memasak
makanan dan membuat minuman untukku, melakukan segalanya bagiku, menanggung
beban atas apapun yang kulakukan atau aku mau, memamah makanan yang tak bisa ku
telan karena tak kunjung gigiku tumbuh dulu,
mengobatiku saat aku sakit, menungguiku saat aku sakit hingga tak pernah
tidur, memberikan membelikan, apa yang aku mau, melawan ketakutan yang aku
takuti, mengingatkanku ketika aku salah dan malas, dan memotivasiku.
Maafkan aku yang bandel, suka
cemburu, susah diingatkan, susah diatur, memaksakan kehendak, mengharapkan yang lebih, kadang
membangkang, keras kepala, malas, tidur hehe, tidak rajin, belum bisa memenuhi
keinginanmu, belum bisa berbuat apa-apa untukmu, dan yang kurang bisa
mengertimu, membahagiakanmu ini. Maafkan aku pula yang sampai saat ini belum
bisa sehari semalam saja bermalam di rumah, tolong jangan tanyakan lagi kenapa
aku selalu pulang hanya beberapa jam di rumah ya, kau tahu kenapa? Karena aku
selalu tak dapat menjawab pertanyaanmu. . . Aku selalu tak kuasa dan hanya bisa
memeluk dan memanggil namamu. Senyummu segalanya bagiku, dengan senyummu aku
hidup. ummii ~ Jadi maafkan aku yang selalu merindukanmu. Selalu
aku mencoba, di setiap waktu untuk mendoakanmu dan sampai saat ini, baru hanya
ini yang bisa kulakukan. Terimakasih ummii . . . Terimakasih
