Hai, lama tidak menyapa.
Ada yang ingin kusampaikan. Tapi yang akan kusampaikan ini juga karena kegelisahanku yang tak berujung. Yang dalam keegoisanku, aku masih aku, yang memiliki keinginan, yang punya harapan. Manusiawi bukan?
Aku tidak ingin berbelit-belit, tidak ingin berbasa-basi. Karena kurasa Aku tidak memiliki waktu yang banyak. Jadi tolong dengarkan Aku.
Aku tidak begitu baik dalam melukiskan perasaanku dengan kata-kata, memberikanmu perhatian dengan berucap ini itu.
Karena selama ini, Aku hanya bisa berbagi cerita saja padamu. Dan kurasa kamu hanya bisa memvalidasi perasaanku dari pandangan mataku. Kamu sudah tahu perasaanku karena telah benar-benar melihat mataku. Aku percaya itu. Karena kamu orang yang paling tahu diamku.
J,
Aku merasa tenang, gelisah, senang, sedih, di saat yang sama Aku menyampaikan ini.
Harus berapa kali Aku mencoba menghindarimu hanya untuk tidak membuatmu semakin terluka?
Harus berapa kali Aku marah hanya untuk membuatmu mengerti kalau Aku sedang mencemaskanmu?
Harus berapa kali Aku diam hanya untuk membuatmu mengerti bahwa Aku merindukanmu?
Harus berapa kali Aku berlelah-lelahan menyiapkan jawaban oleh pertanyaanmu padahal Aku hanya ingin memandang matamu kemudian menghabiskan waktu bersamamu?
J,
Aku hanya tidak tahu berapa kali dan harus seberapa keras lagi Aku mencoba selama ini, untuk bersedia menyadarkan diri bahwa kamu hanya imaji yang terus kuimpikan. Aku tetap tidak bisa.
Tidak bisa. Meskipun Aku berdalih, kamu ini aneh. Aku ini aneh. Tidak masuk akal. Kita hanya bertemu dua kali. Kita hanya berkabar sesekali. Kita hanya sedikit berbagi cerita. Kita hanya sedikit mengerti.
Tapi entah mengapa Aku merasa menjadi diriku yang utuh ketika bersamamu, ketika dekat denganmu.
Aku merasa seperti tidak memerlukan apa-apa lagi di dunia, Aku merasa bisa menjadi lebih berani, Aku merasa bisa melepaskan kecemasan-kecemasanku. Aku merasa mampu melakukan apapun yang Aku mampu lakukan ketika kamu Ada, ketika kamu bersamaku dan saat kita berdekatan.
Entah itu dari kata-kata darimu meski kita berjarak ribuan kilometer. Maupun fisikalmu tepat berada di dekatku.
Semua menenangkan, semua menjadi membahagiakan. Membawa nafas-nafas baru di kehidupan ku.
Apakah kamu juga begitu?
J,
Sebagai perempuan, bolehkah aku meminta kejelasanmu?
Apakah Aku berhak bertanya padamu?
Apakah Aku salah jika menyampaikan ini padamu? Apakah Aku akan membuatmu makin tersiksa? Apakah Aku akan membuatmu semakin sedih?
Apakah Aku boleh menemanimu?
Apakah Aku boleh menemanimu dengan kasih sayang dalam melewati perjalanan ini?
Maafkan Aku. Maaf sudah mengatakan ini semua.
Aku hanya perempuan bodoh yang memberikan kesakitan dan kehampaan.
Atas cerita-ceritaku, atas tindakanku. Maafkan Aku.
Bahkan dirimu masih bisa mendapatkan teman yang mampu memberikan kehidupan. Yang tidak ada lagi kesepian dan kesendirian.
Harapan-harapan baik selalu kulantunkan untukmu.
Tidak ada yang lebih membahagiakanku daripada mendengar bahwa dirimu baik-baik saja. Tidak ada lagi yang lain. Tidak ada.
Terimakasih, sudah memberiku banyak hal untuk direnungkan dan divalidasi. Terimakasih sudah membuatku utuh saat bersamamu, saat dekat denganmu. Terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar