![]() |
| sumber: Istimewa |
Sehat dan
sakit merupakan gejala universal, terjadi sepanjang sejarah manusia dan dikenal
di semua kebudayaan. Hanya saja untuk merumuskan secara eksak tidak mungkin
dicapai.
Sehat
mengandung pengertian keadaan yang sempurna secara biopsikososial, lebih dari
sekadar terbebas dari penyakit atau kecacatan. Sakit juga mengandung makna
biopsikososial, yang meliputi konsep disease (berdimensi biologis), illness
(berdimensi psikologis) dan sickness (berdimensi sosiologis). Faktor subjektif
dan kultural turut menentukan konsep sehat dan sakit.
Kesehatan
pada prinsipnya berada pada rentangan yang kontinum, yaitu di antara titik yang
benar-benar sakit dan titik benar-benar sehat. Kesehatan seseorang atau
masyarakat ini dapat diupayakan ditingkatkan statusnya, dari yang kurang sehat
menjadi lebih sehat, atau sebaliknya.
Kesehatan,
selain ada secara fisik juga ada secara psikologis. Kesehatan secara fisiologis
berhubungan dengan kesehatan mental, dan keduanya tidak saling menentukan. Jika
terjadi gangguan fisik akan mempengaruhi keadaan kesehatan mentalnya. Demikian
juga jika terjadi gangguan mental maka akan mempengaruhi kesehatan fisiknya.
Sehat
berbeda pengertiannnya dengan normal. Kedua istilah ini sering dimaknakan sama,
tetapi sebenarnya memiliki pengertian yang berbeda. Hal serupa juga berlaku
untuk konsep gangguan dan deviasi. Gangguan lebih mengacu pada aspek medis,
sedangkan deviasi lebih pada aspek social.[1]
[1]
Moeldjono Notosoedirdjo dan
Latipun, Kesehatan Mental, (Malang:
Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang, 2017), hlm. 11.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar